Breaking News:

Berita Banjarnegara

Berziarah ke Masjid Kuno Gumelem Banjarnegara, Jejak Syiar Islam di Masa Lampau

Di pegunungan sisi selatan Banjarnegara,  jejak syiar Islam zaman dahulu masih kentara.

Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Masjid At Taqwa Gumelem Banjarnegara berusia ratusan tahun. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA- Kabupaten Banjarnegara bukan hanya terkenal dengan peninggalan peradaban Hindu (pra Islam) di kawasan dataran tinggi Dieng. Di pegunungan sisi selatan daerah itu,  jejak syiar Islam zaman dahulu masih kentara.

Di Desa Gumelem Kecamatan Susukan, Banjarnegara,  sebua

Ruag dalam Masjid At Taqwa Gumelem Banjarnegara berusia ratusan tahun.
Ruag dalam Masjid At Taqwa Gumelem Banjarnegara berusia ratusan tahun. (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)

h masjid kuno masih berdiri kokoh. Dari luar, bangunan itu terlihat biasa, seperti umumnya bangunan masjid di tempat lain. Tetapi suasana berubah ketika memasuki ruang utama masjid itu.

Bangunan di ruang utama masjid, mulai saka atau tiang, blandar hingga usuk masih berupa kayu. Uniknya, bangunan berbahan kayu Jati itu diperkirkaan sudah berusia ratusan tahun.

Masjid itu diyakini dibangun pada tahun 1559. Pembangunan masjid diinisiasi oleh toko penyebar Islam atau ulama bernama Nur Daiman. Kala itu, saat nama Desa Gumelem masih bernama Karangtiris, masyarakatnya masih kuat memegang kepercayaan lama atau Hindu.

Menurut Kepala Desa Gumelem Kulon Arief Arief Mahbub, Nur Daiman adalah utusan dari Kerajaan Mataram yang datang ke Karangtiris untuk mengemban misi mensyiarkan Islam. Dakwah di tengah komunitas yang masih memegang adat tentunya bukan perkara gampang.  Ia, sebagaimana wali songo, berdakwah tanpa menabrak budaya atau kearifan lokal yang masih dipegang kuat warga.

Makanya, sebelum berdiri masjid, kata Arief, di tempat itu lebih dulu didirikan Balekambang atau tempat pertemuan warga. Di situ, masyarakat biasa berkumpul untuk membahas berbagai persoalan.

Hingga perlahan, setelah  Agama Islam diterima masyarakat, mereka memutuskan mendirikan masjid

“Untuk siarkan agama Islam perlu arif. Makanya dibuat sebuah tempat namanya Balekambang, cikal bakal masjid jami At Taqwa, "katanya, Kamis (7/5/2021) 

Ajaibnya, meski berusia ratusan tahun, bangunan itu masih berdiri kokoh hingga sekarang. Hanya beberapa bagian masjid yang dilakukan renovasi atau penambahan bangunan semisal serambi, dan atap yang dulunya masih berbahan ijuk kini diganti menggunakan seng.

Sementara bangunan utama masjid masih dipertahankan keutuhannya. Uniknya, bangunan kayu itu didirikan tanpa menggunakan paku. Konstruksi masjid itu, kata Arief, juga mirip dengan Kademangan.

Yang menarik lagi dari masjid ini adalah lokasinya yang berada di dua desa, yakni Desa Gumelem Wetan dan Desa Gumelem Kulon. Dinding ruang pengimaman masjid At Taqwa berlubang persis di bagian tengahnya. Lubang itu ternyata sebagai penanda batas administrasi wilayah dua desa bertetangga. Lubang di dinding pengimaman itu pun disebutnya sudah ada sejak zaman dahulu.

“Ketika salat, satu kaki bisa menginjak wilayah Desa Gumelem Wetan, satu kaki berada di Desa Gumelem Kulon,”katanya

Tak ayal, ia menyebut masjid At Taqwa bukan sekadar tempat ibadah, namun juga pemersatu dua desa bertetangga. Penyebutan lokasi masjid itu pun bukan di Desa Gumelem Wetan atau Desa Gumelem Kulon, melainkan Desa Gumelem. Karena berada di wilayah administratif dua desa, pengelolaan masjid itu pun dilakukan oleh takmir dari dua desa. Jamaah yang beribadah di masjid At Taqwa juga berasal dari dua desa. (*)

Masjid At Taqwa Gumelem Banjarnegara berusia ratusan tahun
Masjid At Taqwa Gumelem Banjarnegara berusia ratusan tahun (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)
Penulis: khoirul muzaki
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved