Breaking News:

LPPM Unnes Tekankan Pentingnya Hak Kekayaan Intelektual Dosen

Banyak dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang belum memahami pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Penulis: m zaenal arifin | Editor: Daniel Ari Purnomo
Istimewa
Webinar sosialisasi HKI yang digelar Pusat Diseminasi Teknologi dan Kekayaan Intelektual (KI) LPPM Unnes bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkum HAM, kemarin. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Banyak dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang belum memahami pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Padahal, dosen yang melaksanakan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dengan berbagai sumber pendanaan, terdapat berbagai jenis luaran yang diwajibkan atau luaran tambahan di antaranya berupa HKI tersebut.

Karenanya, Pusat Diseminasi Teknologi dan Kekayaan Intelektual (KI) LPPM Unnes menggelar webinar sosialisasi HKI bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkum HAM, yang diikuti para dosen peneliti dan pengabdi, kemarin.

"Kita menggelar kegiatan sosialisasi HKI, dalam bentuk workshop atau webinar ini, untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan dosen terkait HKI," kata ketua panitia webinar, sekaligus Kepala Pusat Diseminasi Teknologi dan KI LPPM Unnes, Sunyoto, dalam keterangannya, Senin (10/5/2021).

Berdasarkan studi yang pernah saya lakukannya, diketahui baru 55% dosen memahami tentang HKI, dan sisanya 45% belum atau kurang paham.

Lebih lanjut dijelaskan, secara garis besar kekayaan Intelektual (KI) terdiri atas hak cipta (copyrights), dan kekayaan industri (industrial property) yang meliputi paten (patent), desain industri (industrial design).

Kemudian, merek (trademark), desain tata letak sirkuit terpadu (layout design of integrated circuit), rahasia dagang (trade secret), dan perlindungan varietas tanaman (plant variety protection).

"Dari delapan jenis KI tersebut, jenis KI yang berpeluang besar untuk didapatkan dosen melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat empat, yaitu Hak Cipta, Paten, Merek, dan Desain Industri," jelasnya.

Pihaknya pun berharap melalui kegiatan webinar tersebut dapat meningkatkan pemahaman dosen tentang HKI, khususnya paten, hak cipta, desain industri, dan merek.

Termasuk juga pemahaman dosen tentang bagaimana prosedur pendaftaran HKI, sekaligus memberikan pendampingan kepada dosen dalam proses pendaftaran HKI.

"Selain itu, harapannya, jumlah pendaftar HKI meningkat yang berimplikasi pada jumlah HKI (yang granted) meningkat, khususnya paten, hak cipta, desain industri, dan merek," harapnya.

Ketua LPPM Unnes, Suwito Eko Pramono mengungkapkan, saat ini jumlah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Unnes terdiri atas Hak Cipta 1.200, Paten 50, Merek 15 dan satu HKI untuk Desain Industri.

Jumlah tersebut masih dapat ditingkatkan, mengingat jumlah peneliti dan pengabdi di Unnes cukup banyak tiap tahunnya.

"Berdasarkan data LPPM Unnes Tahun 2021, kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan, terdapat 502 judul. Angka tersebut, terdiri dari 405 judul penelitian dan 97 judul pengabdian kepada masyarakat," ungkapnya.

Jumlah tersebut, lanjutnya, belum termasuk judul penelitian dan pengabdian, dengan sumber dana dari fakultas. Jika jumlah HKI meningkat, maka ia berharap berbanding lurus dengan peningkatan nilai kinerja bagi dosen maupun lembaga, sehingga perolehan HKI maupun kinerja Unnes terus meningkat.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved