Breaking News:

Penyair Myanmar Tewas di Tahanan Junta dengan Organ Dalam Tubuhnya Hilang

Penyair Myanmar, Khet Thi, yang karyanya vokal menyuarakan perlawanan terhadap junta yang berkuasa, meninggal dalam tahanan pada Minggu (9/5) malam.

Editor: Vito
SELEBARAN/AFP/FACEBOOK
Foto yang diambil dan diterima dari sumber anonim melalui Facebook menunjukkan pengunjuk rasa mengadakan aksi protes dengan menyalakan lilin terhadap kudeta militer di Mogok, divisi Mandalay, Myanmar, pada Senin (11/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, NAY PYI TAW - Penyair Myanmar, Khet Thi, yang karyanya vokal menyuarakan perlawanan terhadap junta yang berkuasa, meninggal dalam tahanan pada Minggu (9/5) malam.

Jasadnya dilaporkan dikembalikan ke keluarga, tapi organ tubuhnya tidak lengkap, menurut pihak keluarganya, melansir Guardian, Senin (10/5).

Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan untuk meminta komentar atas kematian Khet Thi.

Istri Khet Thi, Chaw Su mengatakan, ia dan suaminya dibawa untuk diinterogasi pada Sabtu (8/5) oleh tentara bersenjata dan polisi di pusat kota Shwebo, di wilayah Sagaing.

“Saya diinterogasi. Begitu pula dia (Khet Thi). Mereka bilang dia ada di pusat interogasi. Tapi dia tidak kembali, hanya tubuhnya," tuturnya, kepada BBC dalam bahasa Burma.

Menurut dia, militer Myanmar sempat meneleponnya pagi hari (Senin). Ia diminta menemui suaminya di rumah sakit di Monywa.

“Saya pikir itu (di rumah sakit-Red) hanya untuk patah lengan atau semacamnya. Tapi ketika saya tiba di sini (rumah sakit-Red), dia berada di kamar mayat, dan organ dalamnya diambil,” ucapnya.

Ia diberitahu rumah sakit bahwa suaminya memiliki masalah jantung. Tetapi Chaw Su tidak mau repot-repot membaca sertifikat kematian yang diberikan, karena dia yakin itu tidak benar.

Reuters tidak dapat menghubungi rumah sakit untuk memberikan komentar.

Chaw Su menyatakan, tentara Myanmar berencana menguburkan Khet Thi. Tetapi dia memohon kepada mereka untuk mengambil jenazah suaminya.

Ia tidak mengatakan bagaimana ia tahu organ suaminya telah diambil. 

"Dia (Khet Thi) meninggal di rumah sakit setelah disiksa di pusat interogasi," kata kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik.

Dalam sebuah buletin, kelompok itu mengungkapkan, jumlah warga sipil Myanmar yang tewas sejak kudeta mencapai 780 orang. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved