Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Belajar dari Sejarah

Akhirnya Lebaran tahun ini datang juga. Namun dua kali Lebaran ini beda dibanding sebelum-sebelumnya. Ya, sudah dua kali ini muslim

Penulis: galih pujo asmoro | Editor: iswidodo
tribunjateng/bram
Galih P Asmoro wartawan Tribun Jateng 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Galih P Asmoro

TRIBUNJATENG.COM - Akhirnya Lebaran tahun ini datang juga. Namun dua kali Lebaran ini beda dibanding sebelum-sebelumnya. Ya, sudah dua kali ini muslim, khususnya di Indonesia merayakan Idulfitri, hari kemenenangan, di tengah pandemi Covid-19. Sudah kali ini pula pemerintah melarang mudik.

Meski sudah ada larangan, tetap saja banyak perantau yang mudik. Mereka pun menyiasati dengan pulang kampung lebih awal, sebelum larangan mudik diberlakukan. Namun ada juga yang nekat mudik di mana larangan mudik sudah berlaku.

Mereka yang nekat pulang, hampir dipastikan mudik itu dilarang. Namun berbekal rindu yang semakin tebal dan keinginan kuat berkumpul bersama keluarga saat Lebaran, membuat perantau mencoba peruntungannya.

Mereka, khususnya para pemotor, berkerumun. Padahal jelas, salah satu kerawanan penyebaran Covid-19 adalah kerumunan. Saya yakin mereka tahu jika kerumunan adalah hal membahayakan. Namun, kerinduan pada kampung halaman dan berlebaran bersama keluarga mengalahkan banyak hal termasuk protokol kesehatan.

Mirisnya lagi, sejak 6 Mei atau mulai diberlakukannya larangan mudik, lebih dari 4.000 pemudik dinyatakan positif Covid-19. Itu berdasarkan pemeriksaan acak. Lha bagaimana jika mereka dites semuanya? Hampir bisa dipastikan jika angka positif Covid-19 lebih dari itu.

Pengetatan pemudik sebenarnya sudah berlangsung dengan baik. Petugas yang melakukan penyekatan telah semaksimal mungkin menghalau pemudik yang hendak pulang ke kampung halaman. Buktinya, puluhan ribu kendaraan diminta putar balik.

Namun petugas juga tetap manusia biasa. Jumlah mereka dibanding dengan pemudik bisa dibilang tak seberapa. Jadi saat ada pemudik yang lolos ataupun akhirnya ada diskresi dari petugas, pasti sudah dipertimbangkan matang-matang.

Tinggal sekarang ini, harapan kita semua adalah kesadaran diri dari para pemudik. Setelah tiba di kampung halamannya bagi mereka yang "berhasil" menembus barikade petugas, semoga menjalankan protokol kesehatan semaksimal mungkin.

Begitu sampai di rumah, mereka segera mandi, gosok gigi, lalu mengisolasi diri. Pun halnya dengan keluarga, tetangga, maupun aparatur desa pemudik bersangkutan harus punya perhatian dan keberanian lebih.

Jangan sampai ewuh-pekewuh kita terhadap para pemudik justru meyebabkan kasus Covid kembali naik. Bukankah biasanya tiap setelah libur panjang diikuti dengan peningkatan kasus Covid-19? Karena itulah, pada masa Lebaran kali ini, mari kita ingat pesan Bung Karno, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah atau Jas Merah.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun dengan menengok sejarah, setidaknya kita bisa memprediksinya. Saat libur panjang diikuti kenaikan kasus Covid di masa lalu, tentu kita tahu di mana musababnya. Paling mendasar tentu karena ada pergerakan manusia. Setelah itu apa, dan apa, demikian seterusnya.

Saat ini, pergerakan manusia sudah tidak bisa lagi kita cegah secara keseluruhan. Mereka yang mudik lebih awal, jelas telah tiba di kampung halamannya. Sementara yang masih berusaha mudik, juga ada potensi di mana mereka bisa pulang kampung.

Sekarang, tinggal bagaimana kita memperbaiki apa yang sepertinya kurang di masa lalu untuk mencegah penyebaran Covid-19. Kita sudah punya contoh nyata yakni India. Tentu kita tak ingin hal itu terjadi di Indonesia. Selamat Indulfitri bagi Anda yang merayakannya, mohon maaf lahir batin. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved