Breaking News:

Berita Blora

Syekh Abdul Qohar, Penyebar Islam di Perbatasan Blora-Rembang

Di desa Ngampel, Kecamatan Blora terdapat makam penyebar Islam masa lampau. Sampai saat ini makam yang berada di peratasan antara Blora dan Rembang.

Tribun Jateng/ Rifqi Gozali
Seorang warga berziarah di depan pusara Syekh Abdul Qohar di Desa Ngampel, Blora 

Penulis: Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Di desa Ngampel, Kecamatan Blora terdapat makam penyebar Islam masa lampau. Sampai saat ini makam yang berada di peratasan antara Blora dan Rembang itu acap kali menjadi rujukan sejumlah umat Islam untuk diziarahi.

Tokoh penyebar Islam tersebut bernama Syekh Abdul Qohar. Makamnya tepat berada di belakang Masjid Baiturrahim Ngampel. Yang membedakan dengan makam lain yang berada kompleks tersebut, makam milik Syekh Abdul Qohar berada di dalam sebuah cungkup.

Di dalam cungkup, makam Syekh Abdul Qohar tidak sendiri. Di dalamnya juga terdapat makam istri, anak, dan menantunya.

Meski menjadi rujukan tempat berziarah, saat Ramadan 1442 hijriah suasana begitu tenang. Taka tampak peziarah yang memadati kompleks makam. Hal ini berbeda saat 10-15 Muharam atau Sura, di makam tersebut senantiasa dipadati peziarah. Saat itu tepat peringatan haul Syekh Abdul Qohar.

“Banyak sekali peziarah yang datang dari berbagai daerah. Dari Jawa Timur, Jaw Barat, bahkan luar Jawa,” kata Ketua RT 1 RW 2 Desa Ngampel, Aliin, saat ditemui di kediamannya yang terletak bersearangan dengan kompleks makam, Minggu (9/5/2021).

Bermacam ritus digelar saat haul, di antaranya pembacaan haul, khataman Alquran baik bi al-nazar maupun bi al-gaib, pengajian, termasuk bersih-bersih area makam dan mengganti kain penutup makam atau buka luwur. Semua itu dilakukan secara rutin tidak lain karena menghormati sosok si empunya makam.

Kemuliaan berikut kisah Syekh Abdul Qohar ini masyhur di kalangan masyarakat. Berdasarkan cerita tutur yang diterima Aliin dari para leluhurnya, Syekh Abdul Qohar berasal dari Rengel Tuban. Dia merupakan sosok pengembara yang andal sejak usia muda. Pengembaraannya pun terhenti tatkala ketemu seorang pemuka agama bernama Kiai Nur Faqih dari Tambakselo, sebuah pedukuhan di perbatasan Blora-Rembang.

Dalam pertemuan dengan Kiai Nur Faqih, Syekh Abdul Qohar disarankan untuk menyudahi pengembaraan. Dari situ kemudian dia meminta arahan di mana dia harus tinggal. Dengan sebuah isyarat, akhirnya Kiai Nur Faqih memberi sebuah takir atau nasi nasi yang dibungkus daun pisang. Kepada Syekh Abdul Qohar, Kiai Faqih berpesan agar takir tersebut dihanyutkan di sungai. Jika takir itu berhenti, di situlah Syekh Abdul Qohar harus menetap.

“Ternyata takir berhenti di Desa Ngampel ini,” ujar lelaki kelahiran 1950.

Isyarat tersebut pun dipenuhi, akhirnya Syekh Abdul Qohar tinggal di Ngampel sampai akhir hayat. Selama tinggal di situ, dia juga dakwah mensyiarkan agama Islam bersama seorang santrinya dari Sunda. Di itu pula, Syekh Abdul Qohar menikah dengan putri Ki Ageng Selo, Siti Zulaikho dan memiliki dua putri. Pertama Siti Tarwiyah menikah dengan Raden Mas Iskandar, putra Tumenggung Kedu. Kemudian putri kedua bernama Siti Arofah menikah dengan Tumenggung Mayor Tuyuhan Putra Pangeran Sambu dari Lasem, Kabupaten Rembang. Makam kelima orang itu berada satu lokasi dengan makam Syekh Abdul Qohar.

Syeh Abdul Qohar juga dikenal sebagai keturunan ningrat dari garis Joko Tingkir atau Hadiwijaya. Hal itu merujuk pada kitab berbahasa Arab pegon karya Muhammad Said Hadi Ngadipurwo Blora. Dalam kitab tersebut dikisahkan: “Kacarita wonten setunggale buku, nalika zaman tahun 1511 ing negara Bintara Demak wonten raden ingkang asminipun Raden Trenggono. Kagungan putra istri ingkang dipun garwa kaliyan Raden Jaka Tingkir (putra bupati Pengking) daerah Solo Pajang ingkang asma Raden Hadiwijaya. Raden Jaka Tingkir kagungan putra asmane Sumahadiningrat. Sumahadiningrat kagungan putra asmane Sumahadinegara. Sumahadinegara kagungan putra tiga: Nyai Ageng Malduwut (Rengel Tuban), Mbah Buyut Abdul Qohar (Ngampel Blora), Mbah Abdullah Mutamakkin (Kajen Pati).”

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: rival al manaf
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved