Breaking News:

Tadarus

TADARUS: Pribadi Muttaqin

Pertama, Id berarti kembali, fathoro artinya berbuka, sehingga Idul Fitri berarti kembali berbuka atau kembali sarapan.

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
DR H.Aji Sofanudin | Balitbang Agama Semarang 

DR H.Aji Sofanudin | Balitbang Agama Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Setelah Ramadlan, umat Islam di segenap penjuru dunia merayakan Idul Fitri. Idul Fitri setidaknya mengandung tiga pengertian. Pertama, Id berarti kembali, fathoro artinya berbuka, sehingga Idul Fitri berarti kembali berbuka atau kembali sarapan.

Kedua, Idul Fitri bermakna kembali kepada keadaan semula, agama yang benar. Kata “kembali” memberikan kesan bahwa selama ini kita berada jauh dari agama. Selama ini, kita keliru dan salah arah sehingga perlu diluruskan dengan kembali kepada keadaan semula.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

Ketiga, fitri artinya suci, asal kejadian. Idul Fitri kembali suci. Ramadan artinya membakar, setelah dosa dan kesalahan kita dibakar pada bulan Ramadan maka di bulan Syawal manusia menjadi suci, bersih tidak berdosa dan bernoda. Seperti bayi yang baru dilahirkan.

Taqaballahu minna wa minkum (semoga Allah menerima ibadah kami, dan anda semua). Minal aidin wal faizin; semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali suci dan (semoga kita) termasuk orang yang beruntung.

Sayyidina Ali ra menjelaskan kepada kita empat indikator pribadi Muttaqin yakni orang yang sukses puasanya, Al Khoufu Minal Jalil, wal amalu bittanzil, wasy syukru ‘alal jazil war ridlo bil qolil, wal isti’dadu liyaumirrahil.

Pertama, Al Khoufu Minal Jalil (takut kepada Allah SWT). Orang yang sukses puasanya akan selalu merasa diawasi Allah. Ada CCTV yang memantau selama 24 jam penuh, 365 hari, setiap detik terekam secara jernih, tidak pernah rusak, yakni CCTV yang bernama Roqib dan Atid.

Puasa mengajarkan kepada kita untuk selalu berbuat baik. Jangankan barang haram, yang jelas halal saja (halal barangnya, halal cara memperolehnya) ketika belum maghrib, orang yang berpuasa tidak ada memakan atau meminumnya.

Kedua, Wal ‘amalu bit tanzil (hidup dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Nabi). Orang-orang yang berhasil dalam puasanya adalah orang yang menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai barometer perilakunya.

Al-Quran dan sunnah merupakan peta jalan hidupnya (hudan). Jika al-Quran berkata halal, maka ikutilah dan sebaliknya jika ia berkata haram, maka tinggalkanlah. Jika al-Qur’an mengatakan ke kanan maka jangan sekali-kali kita belok kiri, karena pasti akan celaka.

Ketiga adalah wasy syukru ‘alal jazil war ridlo bil qolil (mensyukuri nikmat Allah dan ridho dengan yang sedikit). Orang yang sukses puasanya adalah adalah mereka yang mampu untuk selalu mensyukuri nikmat Allah swt, baik secara lisan maupun perbuatan. Selain itu, dia mampu bersikap ridho manakala nikmat yang diterima, belum sesuai dengan harapannya.

Indikator keempat, adalah wal isti’dadu li yaumir rohil (selalu berjaga-jaga untuk menyambut hari yang sangat panjang, yaitu hari setelah kematian). Setiap manusia pasti mati, tetapi semua manusia tidak ada yang tahu kapan ajal itu datang.

Banyak anak-anak bahkan bayi yang baru dilahirkan meninggal dunia, tetapi sebaliknya banyak orang tua yang sakit-sakitan, tetapi Allah masih memberinya usia panjang.

Oleh karena setiap kita pasti mati, dan setiap kita tidak tahu kapan datangnya kematian itu, maka persiapan yang paling bagus adalah selalu berjaga-jaga dengan berbuat kebaikan. Selalu berjaga-jaga untuk menyambut kematian dengan berusaha senantiasa beramal sholeh sehingga pada saatnya datang dalam keadaan husnul khotimah. Amin ya robbal ‘alamin. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved