Breaking News:

Berita Semarang

Mengapa Suhu Udara di Kota Semarang Sebelum dan Usai Lebaran Terasa Gerah? Begini Penjelasan BMKG

Beberapa waktu terakhir, suhu udara di Kota Semarang terasa lebih gerah dan panas.

via redio.in
Ilustrasi suhu panas 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Beberapa waktu terakhir, termasuk menjelang hingga setelah Lebaran 2021, suhu udara di Kota Semarang terasa lebih gerah dan panas.

Meningkatnya suhu udara di ibu kota Provinsi Jawa Tengah tersebut dirasakan dan diungkapkan oleh sejumlah netizen di media sosial Twitter.

Satu di antaranya yakni pemilik akun Mega ^^, @me_gaa, ia mengungkapkan betapa panasnya udara di Kota Lunpia pada Jumat (14/5/2021) siang.

“Semarang cahaya asia yang selalu panas kek simulasi neraka~.Mantap emanggg (emoji api),” tulisnya.

Tak hanya siang hari, bahkan tak sedikit netizen yang mencurahkan perasaannya tentang gerahnya Kota Semarang pada malam hari.

Seperti yang ditulis akun Semarang Menfess, @SmgMenfess2, dan Niel, @257daniel.

“semarang panas bet lah, tengah malem di tempat terbuka pake kaos aja gerah naek motor cuma kaosan juga ga kdinginan,” tulis pemilik akun @257daniel pada malam takbir sebelum Lebaran, Rabu (12/5/2021).

Menanggapi hal tersebut, Kepala BMKG Ahmad Yani Semarang Sutikno ketika dihubungi Tribunjateng.com mengatakan bahwa fenomena ini biasanya terjadi pada masa transisi musim (musim hujan ke musim kemarau) yang menyebabkan udara menjadi lembap.

“Pemanasan matahari yang kuat terjadi pada pagi dan siang hari, maka terjadi penguapan yang menyebabkan terbentuknya awan-awan konvektif.

Pada kondisi ini, suhu udara yang panas terjebak di antara daratan dan awan sehingga udara akan terasa sangat gerah dan pengap,” ungkapnya.

Ia melanjutkan bahwa hal yang perlu diwaspadai pada masa ini adalah awan Cumulonimbus yang bisa menyebabkan hujan deras dalam waktu singkat disertai petir maupun angin kencang.

Suhu udara yang terasa gerah pada masa ini justru terjadi sebaliknya ketika wilayah di Indonesia masuk musim kemarau.
Hal yang terjadi pada musim kemarau yakni pada siang hari suhu udara akan terasa panas dan menyengat terutama di daerah perkotaan seperti Semarang.

Kemudian pada malam hari, udara di luar ruangan akan terasa lebih dingin dari biasanya.

“Pertanyaanya kenapa pada malam hari di musim kemarau terasa lebih dingin?  Hal ini disebabkan tidak adanya awan yang terbentuk dengan langit yang cerah sehingga pelepasan panasnya terangkat secara maksimal ke udara dengan tanpa awan sebagai penghalang,” pungkasnya.

Kasi Data dan Informasi BMKG Jateng, Iis Widya Harmoko, menambahkan bahwa udara yang terasa gerah merupakan akibat dari kadar air dalam hasil penguapan cukup tinggi. “Sehingga kelembapan udara cukup tinggi, biasanya 70 persen ke atas,” ujarnya. (*)

Penulis: Reza Gustav Pradana
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved