Breaking News:

Insiden Kedung Ombo, Faktor Keselamatan Belum Jadi Prioritas

Dari kasus kecelakaan air di Waduk Kedung Ombo, ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk melakukan monitoring dan pengawasan transportasi perahu.

Editor: Vito
TribunSolo.com/Agil Tri
Relawan mengevakuasi perahu yang bikin celaka wisatawan di Waduk Kedung Ombo di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Sabtu (15/5/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pakar transportasi, sekaligus Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, ikut bersuara perihal kecelakaan air di Waduk Kedung Ombo, Boyolali.

Selain menyoroti peran pemda setempat, Djoko menegaskan pentingnya kegiatan monitoring, pembinaan, dan pengawasan terhadap pengelolaan alat transportasi, dalam hal ini perahu.

Setidaknya ada tiga hal yang ia sarankan dalam pengelolaan dan operasional kapal atau perahu di danau juga waduk. Ketiganya, kata dia, dapat dikelola secara profesional oleh pihak desa, misalnya oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

"Yang seperti ini akan mudah dilakukan monitoring, pembinaan dan pengawasan, terutama untuk operasional perahu dengan memperhatikan aspek keselamatan," jelasnya, kepada Tribunnews.com, Minggu (16/5).

Dari kasus kecelakaan air di Waduk Kedung Ombo, ia menguraikan tiga hal yang bisa dilakukan untuk melakukan monitoring dan pengawasan transportasi perahu.

Pertama, memastikan penumpang yang berada di atas kapal sudah menggunakan baju penolong (life jacket) sebelum kapal diberangkatkan.

Kedua, mengecek data penumpang dalam manifest. Ketiga, membantu memberikan informasi tentang kondisi cuaca dan menunda keberangkatan kapal apabila cuaca ekstrem.

Ketiga hal tersebut dinilai perlu dilakukan untuk tercapainya aspek keselamatan penumpang. Pasalnya, menurut dia, dari kasus yang pernah terjadi, faktor keselamatan belum menjadi prioritas para pelaku pariwisata danau maupun waduk.

Hal itu berkaca pada kasus kecelakaan air di Danau Toba pada 2018 lalu yang menenggelamkan ratusan orang penumpang KM Sinar Bangun saat libur Lebaran.

"Faktor keselamatan belum menjadi prioritas para pelaku pariwisata danau. Target pendapatan yang dikejar, namun mengabaikan keselamatan. Apalagi di musim lebaran, yang berwisata akan bertambah tak terkecuali wisata ke danau (waduk)," ucapnya.

Djoko juga melihat, masih banyak ditemukan operasional kapal atau perahu di waduk atau danau yang dikelola perorangan dan kurang memperhatikan aspek keselamatan. Hal itupun seolah dibiarkan oleh pemda setempat, dan bahkan terkadang ditarik pungutan atau retribusi.

Dengan kondisi itu, ia pun lebih menyarankan pengelolaan profesional seperti halnya yang dilakukan oleh BUMDes setempat dengan terus melakukan pengawasan.

Terkait dengan pengamanan prosedural, Djoko menganggap ketersinambungan kegiatan sosialisasi penggunaan penggunaan baju penolong (life jacket).

Termasuk untuk kapal penumpang tradisional, setiap pelayar juga penumpang wajib menggunakan life jacket selama pelayaran.

Aturannya sudah tertuang dari Kementerian Perhubungan, yakni PM Perhubungan No. 25/2015 tentang Standar Keselamatan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan. (Tribunnews.com/Chrysnha)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved