Breaking News:

Ngopi Pagi

FOKUS: Jangan Terus Terulang

"Pas Lebaran kok mesti ono wae kejadian sing aneh-aneh, sing akeh korbane (Setiap Lebaran kok selalu saja ada kejadian yang aneh-aneh, yang banyak kor

Penulis: arief novianto | Editor: iswidodo
tribun jateng
arief novianto, wartawan tribun jateng 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Arief Novianto

TRIBUNJATENG.COM - "Pas Lebaran kok mesti ono wae kejadian sing aneh-aneh, sing akeh korbane (Setiap Lebaran kok selalu saja ada kejadian yang aneh-aneh, yang banyak korbannya-Red)," kata satu tetangga saya, dalam diskusi ngalor ngidul di pos ronda kampung, kemarin malam.
Yah, hal itu menanggapi ramainya pemberitaan media terkait dengan insiden perahu maut di Waduk Kedung Ombo, Dukuh Bulu, Desa Wonorejo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali pada Sabtu (15/5).
Kejadian perahu terbalik itu menyebabkan 20 orang penumpang tercebur ke air, meliputi 11 orang selamat, sementara sembilan orang tenggelam, dengan tujuh di antaranya tewas, dan dua orang lain belum ditemukan hingga Minggu (16/5).
Insiden itu disebut terjadi akibat perahu mengangkut penumpang yang melebihi kapasitas. Selain itu, kejadian tersebut juga disebabkan para penumpang berswafoto di perahu, yang mengakibat perahu tidak seimbang, kemudian terbalik.
Hal itupun cukup menjadi perhatian serius, yang antara lain mengingatkan pada kasus kecelakaan air di Danau Toba pada 2018 lalu yang menenggelamkan ratusan orang penumpang KM Sinar Bangun saat libur Lebaran.
Dalam hal ini, faktor keselamatan pelayaran diduga belum menjadi prioritas, di mana selain jumlah penumpang yang melebihi kapasitas, penumpang perahu juga tidak dibekali dengan jaket keselamatan.
Selain itu, kejadian tersebut juga terjadi di tengah pandemi covid-19, dengan adanya imbauan pembatasan-pembatasan dan penerapan protokol kesehatan ketat. Sementara, yang terjadi di Waduk Kedung Ombo justru jauh dari imbauan itu.
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo prihatin dengan insiden di Waduk Kedung Ombo itu. Ia pun meminta pengelola lokasi wisata tersebut untuk bertanggung jawab. Ia juga meminta peristiwa itu harus dijadikan pembelajaran bagi para kepala daerah, dan meminta kejadian serupa tak boleh terjadi lagi di waktu mendatang.
Ia mengingatkan pada seluruh pengelola pariwisata agar hal itu menjadi perhatian. Tantangan mereka saat ini, selain mengendalikan jumlah pengunjung, faktor yang tak boleh diabaikan adalah keselamatan. "Maka seperti yang berkali-kali saya ingatkan, kira-kira bisa mengelola tidak? kalau tidak bisa dikontrol, tutup saja," ucapnya.
Kepolisian pun langsung bertindak menutup objek wisata tersebut mulai Minggu (16/5). "Yang jelas ada dua hal, protokol kesehatan karena terlalu banyak masyarakat ke sini, sehingga menimbulkan kerumunan saat pandemi, dan protokol keselamatan yang tidak diperhatikan," ungkap Kapolres Boyolali, AKBP Morry Ermond
Rasanya tidak pas jika tetangga saya mengaitkan Lebaran dengan adanya kejadian yang memakan korban jiwa, di mana hal itu hanya kebetulan saja terjadi. Faktor manusia tampaknya lebih dominan menjadi penyebab, terlebih nakhoda dalam insiden di Wadung Kedung Ombo diketahui adalah seorang anak yang masih berusia 13 tahun.
Mungkin, faktor manusia memang menjadi satu hal paling utama yang harus diperhatikan dalam berbagai aktivitas yang berpotensi risiko menimbulkan korban jiwa. Hal itu mengingat manusia menjadi pengendali penuh yang dapat meminimalkan risiko, termasuk di tengah kondisi pandemi saat ini.
Kini tinggal bagaimana kesadaran pada setiap pengendali risiko itu dapat dimunculkan, apakah melalui pembinaan atau bahkan ancaman sanksi. Jangan sampai kelalaian yang sama terus terulang. Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir batin. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved