Hippindo Perkirakan Bisnis Peritel Turun Lagi Usai Libur Lebaran

Kenaikan omzet dan penjualan peritel pada momentum Ramadan-Lebaran belum tentu dapat bertahan setelahnya.

Editor: Vito
TRIBUN JATENG/RUTH NOVITA LUSIANI
Pengunjung berjalan-jalan di Mal Ciputra Semarang, baru-baru ini. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah menyatakan, kenaikan omzet dan penjualan peritel pada momentum Ramadan-Lebaran belum tentu dapat bertahan setelahnya.

Adapun, Asosiasi Pengusaha Ritel Modern seluruh Indonesia (Aprindo) memperkirakan omzet peritel di seluruh Indonesia pada masa Lebaran mencapai Rp 7,5 triliun-Rp 8 triliun, dengan adanya peningkatan penjualan sekitar 25-30 persen.

"Mungkin akan melandai setelah selesai libur (Lebaran-Red). Kita nggak tahu besok bagaimana, tapi pasti akan makin turun," ujarnya, kepada Kontan.co.id, Minggu (16/5).

Budihardjo mengakui, meski kunjungan dan penjualan ritel pada momentum Lebaran tahun ini lebih tinggi dibandingkan dengan 2020 lalu, kondisi ini belum bisa dikatakan pulih seperti level normal sebelum pandemi.

"Pembatasan kan tetap ada. Kalau dibandingkan 2019 masih belum (pulih-Red). Tapi sudah jauh lebih baik dibandingkan 2020," terangnya.

Namun, menurut dia, tren pemulihan yang terdongkrak masa Lebaran ini menjadi modal yang positif bagi ekosistem ritel di Indonesia.

Dengan penjualan dan omzet yang meningkat, Budihardjo mengatakan, peritel bisa memutarkan uangnya ke pemasok (supplier) hingga menggerakkan industri lain.

"Lebaran ramai, ekonomi berputar. Jadi di bulan depan ada pondasi untuk persiapan. Bisa bayar ke supplier, lalu uang berputar, ekosistem bergerak. Ini modal yang baik untuk pemulihan ritel dan ekonomi," paparnya.

Budihardjo mengakui, kinerja sektor ritel terus merangkak naik baik dari sisi tingkat kunjungan maupun omzet yang dicetak para penyewa pusat perbelanjaan di momen Ramadan dan Lebaran.

Ia memotret pertumbuhan sektor ritel di pusat perbelanjaan dengan membandingkan kondisi saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro.

Menurut dia, pengetatan dan pelonggaran kebijakan pembatasan sosial menjadi penentu kinerja ritel selama masa pandemi, terutama dari sisi jam operasional dan juga tingkat keyakinan masyarakat untuk mengunjungi pusat perbelanjaan.

"Dari Maret-April 2021 sudah ada kenaikan karena (pembatasan sosial) sudah diperbaiki. Terbukti di Lebaran ini mal ramai, beberapa antre, tapi konteksnya masih teratur untuk pusat belanja. Flow-nya masih sesuai protokol kesehatan," tuturnya.

Dengan diberlakukannya PPKM mikro, ada pelonggaran jam operasional pusat belanja dan mal dari yang semula tutup pukul 19.00 menjadi pukul 21.00.

Akibatnya, pengunjung pusat perbelanjaan pada Maret-April naik bertahap sekitar 10 persen, hingga puncaknya mencapai 30-50 persen pada Mei atau saat momentum Lebaran.

Secara rata-rata, Budihardjo mengungkapkan, dengan tingkat kunjungan yang naik hingga 50 persen tersebut, omzet peritel bisa naik sekitar 30 persen.

Perbandingan dilakukan dengan mengacu pada masa pemberlakuan pembatasan sosial ketat dengan yang sudah diperlonggar melalui PPKM mikro.

Kenaikan tingkat kunjungan dan omzet tersebut merata dihampir semua segmen ritel. Baik yang berbentuk super dan hipermarket, grosir maupun minimarket.

"Ritel fashion, sepatu, tas, toko obat, optik, salon juga ramai. Bulan Mei semua sektor ramai," jelasnya. (Kontan.co.id/Venny Suryanto/Ridwan Nanda Mulyana)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved