Breaking News:

Masa Lebaran 2021 Dongkrak Penjualan Peritel, Omzet Bisa Capai Rp 8 Triliun

Omzet peritel pada masa Lebaran diperkirakan mencapai Rp 7,5 triliun-Rp 8 triliun, dengan peningkatan penjualan sekitar 25-30 persen.

(Tribun Jateng / Ruth Novita Lusiani)
Aktivitas pengunjung di Mal Ciputra Semarang, adapun jelang hari Lebaran, pusat perbelanjaan di Semarang mengalami peningkatan kunjungan. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Ritel Modern seluruh Indonesia (Aprindo), Roy N Mandey memperkirakan omzet peritel di seluruh Indonesia mencapai Rp 7,5 triliun-Rp 8 triliun selama masa Lebaran pada akhir April-Mei.

Menurut dia, Lebaran tahun ini menunjukan adanya tren perbaikan dibandingkan dengan kondisi di momen yang sama pada 2020 lalu. Hal itu didorong dari adanya peningkatan penjualan sekitar 25-30 persen.

“Peningkatan penjualan tertinggi didorong dari tiga wilayah, terutama di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera yang mendominasi,” katanya, saat dihubungi Kontan, Minggu (16/5).

Meski demikian, Roy menuturkan, peningkatan penjualan tersebut hanya mencapai setengahnya dari lonjakan penjualan di Lebaran sebelum adanya pandemi covid-19.

Hal itu karena biasanya Lebaran tahun-tahun sebelumnya bisa melonjak hingga 45 persen. “Kalau tahun ini karena ada larangan mudik juga kan, sehingga mereka tidak berbelanja sekalian untuk mudik,” jelasnya.

Roy menargetkan tahun ini omzet peritel bisa mencapai sekitar Rp 30 triliun. Sementara di tahun lalu, ia memperkirakan total omzet hanya sekitar Rp 20 triliun. “Tahun ini kami harapkan omzet di seluruh Indonesia bisa mencapai Rp 30 triliun,” ucapnya.

Senada, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah menyebut, kinerja sektor ritel terus merangkak naik baik dari sisi tingkat kunjungan maupun omzet yang dicetak para penyewa pusat perbelanjaan di momen Ramadan dan Lebaran.

Ia memotret pertumbuhan sektor ritel di pusat perbelanjaan dengan membandingkan kondisi saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro.

Menurut dia, pengetatan dan pelonggaran kebijakan pembatasan sosial menjadi penentu kinerja ritel selama masa pandemi, terutama dari sisi jam operasional dan juga tingkat keyakinan masyarakat untuk mengunjungi pusat perbelanjaan.

"Dari Maret-April 2021 sudah ada kenaikan karena (pembatasan sosial) sudah diperbaiki. Terbukti di Lebaran ini mal ramai, beberapa antre, tapi konteksnya masih teratur untuk pusat belanja. Flow-nya masih sesuai protokol kesehatan," tuturnya.

Halaman
12
Editor: Vito
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved