Breaking News:

Liputan Khusus

Pasien Covid Kesulitan Cari Plasma Konvalesen Ternyata Segini Harganya

Tribunjateng.com melakukan penelusuran mengapa stok terbatas, langka dan harga mahal.

Editor: iswidodo
kompas.com
ILUSTRASI kantong darah hasil donor plasma konvalesen dari pasien covid yang telah sembuh 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Beberapa pasien akut Covid-19 yang menjalani perawatan kemudian meninggal dunia, salah satunya disebabkan oleh keterlambatan memperoleh donor darah plasma konvalesen.
Selain karena darah hasil donor plasma konvalesen itu mahal harganya, juga sulit didapat alias sangat terbatas. Terapi plasma konvalesen terbukti efektif apabila diberikan di waktu dan kondisi yang tepat. Banyak pasien sembuh berkat plasma konvalesen. Tribunjateng.com melakukan penelusuran mengapa stok terbatas, langka dan harga mahal.
PMI Kota Semarang menyebut, sejak awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu sudah mengalami kesulitan pendonor plasma konvalesen. Karena tidak semua penyintas covid (mantan pasien positif) bisa menjadi pendonor plasma konvalesen.
Menurut Kepala UUD PMI Kota Semarang, dr. Anna Kartika, minimnya data penyintas covid juga menjadi kendala tersendiri bagi PMI untuk mencari pendonor plasma konvalesen. Selain itu, ada pula beberapa penyintas yang takut dengan jarum dan trauma setelah sembuh dari covid.
"Yang paling sulit bagi kami, tidak semua penyintas bisa memenuhi syarat sebagai donor plasma konvalesen. Karena titer antibodi covid dari pendonor banyak yang tidak masuk kriteria. Padahal, titer minimal 1:160, terutama untuk penyintas covid tanpa gejala," terangnya.
Sejak awal pandemi hingga saat ini, UUD PMI Kota Semarang sudah melayani kurang lebih 1.340 kantong plasma konvalesen yang didapat dari 600 pendonor. Sebanyak 1.340 kantong plasma konvalesen tersebut disebar di beberapa rumah sakit. Tidak hanya di Kota Semarang saja.
"Sebab, tidak semua PMI bisa melayani plasma konvalesen. Di Indonesia, hanya ada 42 PMI saja yang bisa melayani plasma konvalesen. Termasuk salah satunya UUD PMI Kota Semarang. Maka, kebutuhan plasma konvalesen tak hanya diberikan kepada pasien yang ada di rumah sakit dalam kota saja. Tapi termasuk luar kota juga," bebernya.
Rincian Biaya
Untuk bisa mendapatkan satu kantong plasma konvalesen di PMI, pasien perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp 2.250.000 dengan volume 200 ml. Maka, apabila satu pasien butuh dua kolf (1 kolf=500cc), setidaknya harus mengeluarkan biaya total Rp 11.250.000.
"Biaya tersebut dikeluarkan sebagai pengganti bahan habis pakai. Seperti kit apheresis, kantong darah, satelit, dan lainnya. Termasuk pemeriksaan donor, ada Hb, titer antibodi, IMLTD, skrining antibodi, dan lainnya. Serta biaya-biaya yang keluar saat pengolahan plasma konvalesen," terang dr. Anna.
Donor plasma konvalesen tidak seperti donor darah biasa. Perlu diketahui, petugas PMI harus menggunakan alat apheresis. Yaitu alat yang hanya bisa mengambil plasmanya saja. Sedangkan komponen darah yang lainnya akan masuk kembali ke tubuh pendonor.
"Proses pengambilan plasma memakan waktu kurang lebih satu jam. Perlu dilakukan pemeriksaan awal sebelum pengambilan plasma. Untuk sekali donor, pendonor diambil plasmanya sekitar 400 hingga 600 ml. Pendonor juga masih bisa donor kembali setelah dua minggu. Namun syaratnya harus terpenuhi. Plasma konvalesen hanya bisa disimpan pada suhu minus 30 derajat celcius dan dapat disimpan selama setahun," imbuhnya.
Plasma konvalesen yang ada di PMI hanya akan didistribusikan ke rumah sakit apabila ada permintaan. Tapi sebelum melakukan transfusi, sebaiknya pihak keluarga pasien menghubungi petugas PMI untuk menanyakan ketersediaan plasma konvalesen di tiap UUD PMI.
"Apabila tersedia, petugas rumah sakit akan membawa sampel darah pasien untuk dicocokkan dengan plasma konvalesen yang ada di UUD PMI. Petugas rumah sakit atau pihak keluarga pasien akan membawa plasma konvalesen yang sudah disiapkan untuk pasien. Kemudian, pencairan plasma oleh petugas kesehatan tertentu. Kalau sudah siap tinggal dilakukan transfusi plasma," pungkasnya.
Bayar Sendiri
Pengalaman Rudi betapa sulitnya mencari plasma konvalesen untuk kakaknya yang terindikasi Covid-19. Awal Mei kemarin, Rudi mendapatkan kabar oleh saudaranya bahwa kakaknya masuk ke ICU karena covid-19.
"Pihak Rumah Sakit mengatakan kepada keluarga, bahwa pasien butuh dua kantong plasma konvalesen. Kemudian saya dan anggota keluarga lain diberikan surat oleh rumah sakit untuk mencari sendiri plasma konvalesen. Sebab, stok di RSUD Ambarawa dan PMI Kabupaten Semarang habis," tutur Rudi.
Karena sang kakak memiliki golongan darah B+, maka Rudi mencoba menghubungi pihak UUD PMI Kota Semarang. Sayangnya, apa yang dicari Rudi tidak tersedia di PMI tersebut.
"Di sana plasma konvalesen ada, tapi yang untuk golongan B+ kosong. Lalu, saya disarankan untuk menghubungi PMI Kabupaten Banyumas. Namun sebelum itu, saya diminta untuk memastikan apakah biaya penebusan plasma konvalesen ditanggung pemerintah atau pribadi," ucapnya.
Karena mendapatkan informasi tersebut, lantas Rudi mengkonfirmasi kepada pihak RSUD Ambarawa. Benar saja, pihak rumah sakit tidak menanggung biaya penebusan plasma konvalesen.
"Jadi mau tidak mau saya harus menebus plasma konvalesen yang ada di PMI Kabupaten Banyumas sebanyak dua kantong. Totalnya Rp 4,5 juta. Satu kantong Rp 2,25 juta. Rada aneh saja kalau ternyata plasma konvalesen tidak ditanggung BPJS, padahal pemerintah mengatakan gratiskan seluruh biaya perawatan pasien covid-19. Ya sudahlah," tegasnya.
Saat sampai di PMI Banyumas, Rudi sempat berbincang-bincang dengan security setempat. Dia bilang banyak keluarga pasien dari Jawa Barat juga datang ke PMI Banyumas. "Saya di lokasi pukul 20.30 WIB saja masih banyak orang antre untuk mendapatkan plasma konvalesen di PMI Kabupaten Banyumas," terangnya.
Bertahan 24 jam
Setelah mendapatkan plasma konvalesen, Rudi membawa sendiri plasma tersebut yang sudah dibungkus dengan kotak styrofoam. Menurut keterangan dari petugas PMI, plasma konvalesen dalam kotak styrofoam tersebut bisa bertahan hingga 24 jam.
"Karena dari sana biasa diambil sendiri oleh keluarga pasien, maka saya ke sana ambil sendiri. Lalu setelah itu saya bawa langsung ke RSUD Ambarawa untuk diberikan kepada kakak. Sesuai permintaan dokter, dua kantong plasma konvalesen cukup. Tapi tiap pasien kebutuhannya berbeda-beda," tuturnya. Hal yang membuat Rudi bahagia, kondisi kakaknya sudah membaik setelah mendapat plasma konvalesen.
Tidak hanya Rudi yang berkisah bagaimana sulitnya mencari plasma konvalesen. Perempuan asal Kota Semarang, sebut saja Murni, juga mengalami hal yang sama. Bahkan, saking sulitnya mencari plasma konvalesen hingga membuat suaminya meninggal dunia.
"Dua hari sebelum suami meninggal posisi ada di ICU. Karena kata dokter kondisinya semakin drop. Lalu saya dikabari kalau suami butuh plasma konvalesen secepatnya. Kemudian saya coba cari dengan tanya saudara dan teman-teman," katanya.
Setelah cari di PMI Kota Semarang dan Solo tak ada akhirnya Murni mendapat info bahwa PMI Banyumas ada tersedia. "Karena golongan darah suami saya A, yang terdekat hanya ada di PMI Kabupaten Banyumas. Kemudian setelah berkoordinasi dengan keluarga, saya putuskan untuk ambil di sana," imbuhnya.
Tapi takdir berkata lain. Saat dalam perjalanan bawa plasma konvalesen dari Banyumas ke Semarang, ternyata sang suami yang berada di ICU meninggal dunia. Hati Murni hancur, karena harapan kesembuhan suami pupus.
"Sudah capek saya beberapa hari tidak tidur karena bantu mengurus suami. Tapi harapan itu muncul saat plasma konvalesen yang dibutuhkan suami saya sudah dalam perjalanan. Namun, plasma konvalesen belum sampai di rumah sakit, nyawa suami sudah tidak tertolong," jelasnya. (tim)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved