Wawancara Eksklusif

Cerita Agoes Aufiya WNI di India Saat Tsunami Covid-19 Melanda

Saat ini setelah di India terjadi ratusan ribu penambahan kasus positif covid-19, masyarakat kembali melakukan proteksi diri, yang sebelumnya

Editor: iswidodo
youtube
Agoes Aufiya mahasiswa S3 Jawaharlal Nehru University (JNU) di India. 

TRIBUNJATENG.COM - Kondisi tsunami covid-19 di India membuat dunia khawatir. Apa yang terjadi di India bisa menimpa negara mana saja bila tidak menaati aturan protokol kesehatan secara ketat. Saat ini setelah di India terjadi ratusan ribu penambahan kasus positif covid-19, masyarakat kembali melakukan proteksi diri, yang sebelumnya sempat longgar.
Tribunnews.com melakukan talkshow dengan Mohd. Agoes Aufiya seorang WNI yang saat sedang berada di India, Sabtu (1/5/2021). Agoes Aufiya adalah mahasiswa S3 Jawaharlal Nehru University (JNU) di India. Dia mengatakan ada peningkatan proteksi diri dalam protokol kesehatan khususnya penggunaan masker double.
"Double mask, jadi kita menggunakan masker dua lapis. Jadi pertama paling luar masker medis dan bagian dalam masker kain. Agar benar-benar tertutup bagian hidung kita. Jangan sampai ada udara yang masuk," tambah Agoes.
Ia mengatakan, masyarakat India mulai sadar bahwa pengabaian protokol kesehatan berakibat fatal. Berikut petikan wawancara khusus dengan Mohd. Agoes Aufiya:
Beredar WN India jatuh di jalan, apa betul sampai seperti itu?
Ada satu video yang hoax, yang menggambarkan masyarakat yang duduk tidak sadarkan diri bahkan terjatuh. Saya khawatir video itu yang disebarluaskan. Yang mana sebenarnya video itu terjadi pada 20 Mei 2020.
Pada saat terjadi kebocoran gas di negara bagian lain. Yang sebenarnya valid itu adalah video-video yang berada di dekat rumah sakit di mana orang-orang pada antre untuk masuk ke rumah sakit berebut mendapat perawatan. Atau antrean kremasi. Itu yang saya pikir lebih valid.
Bagaimana pencegahan dilakukan?
Betul ada peningkatan proteksi terkait penggunaan protokol kesehatan. Khususnya yang sedang viral itu menggunakan masker double. Jadi kita menggunakan masker dua lapis, bagian paling luar adalah masker bedah di dalamnya masker kain.
Intinya agar benar-benar tertutup bagian hidup kita jangan sampai ada udara yang masuk. Ini sedang ramai digunakan masyarakat India. Kepatuhannya kembali lagi. Pasca gelombang I sempat terjadi pengabaian protokol kesehatan. Sekarang WN India kembali concern menerapkan protokol kesehatan.
Ada pembatasan transformasi umum?
Ya kalau untuk kita di Kota New Delhi ada MRT. Kalau tidak salah itu hanya beroperasi per 30 menit. Itu hanya orang-orang tertentu seperti PNS, kelompok orang yang di sektor esensial seperti petugas medis, listrik, air. Penerbangan domestik masih dibuka, begitu juga kereta api antar negara bagian masih dibuka, termasuk bus.
Apa pesan Anda lihat situasi saat ini?
Ya saya itu berpikir ya. Indonesia dan India memiliki kesamaan tipikal negara berkembang. Saya melihat dari segi religius, mayoritas Islam kuat, di India kuat agama Hindu.
Ada kegiatan agama yang biasanya berkumpul, bisa terjadi di dua negara. Termasuk idul fitri di kita. Di India saya melihat mereka percaya diri dari segi anti bodi. Saya kebal, saya kuat, apalagi pemerintah New Delhi menyatakan 51-52 persen sudah herd immunity.
Tapi ternyata terpatahkan juga gitu. Namun di Indonesia pikiran konspirasi bahkan tidak ada Covid-19 ini nah ini yang saya khawatirkan. Ketika kita merasa di Indonesia baik-baik saja, aktivitas kembali normal, bedanya hanya menggunakan masker saja ini patut dikhawatirkan. Jangan sampai terulang seperti di India.
Sudah merasa menang, protokol kesehatan diabaikan, apalagi kegiatan terakhir di India yaitu jutaan orang mandi di Sungai Gangga ini salah satu yang mentrigger.
Kemudian terkait kampanye politik, bahkan dua-tiga hari lalu ada kegiatan pemungutan suara fase terakhir. Walau protokol kesehatan tapi ini juga berbahaya. Kita harus belajar di India terkait masalah jumlah tes, jadi 400 ribu itu bisa terdeteksi dengan melakukan tes yang besar yaitu 1,9 juta tes dalam 24 jam terakhir.
Bagaimana dengan vaksinasi?
Perlu digarisbawahi India ini negara penghasil vaksin. Ada dua vaksin. Sudah 150 juta divaksin, 2 juta per hari. Ini memberi pesan orang sudah vaksin dirinya sudah kebal. Vaksin itu dibuat berdasarkan dari yang namanya gen dari virus Covid-19 yang terdahulu.
Yang menjadi salah satu penyebab juga dianggap oleh para ahli kenapa di India tinggi yaitu karena mutasi double atau double mutant yang kita sebut B1617. Sehingga 2020 ada yang sembuh, 2021 dapat 2 dosis vaksin, namun akhirnya terkena Covid-19. (tribun network/denis destryawan)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved