Wawancara Eksklusif

WANSUS Giyarto BMKG Ingatkan Adanya Potensi Angin Puting Beliung

Giyarto, Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang. Berikut petikan wawancaranya.

Penulis: faisal affan | Editor: iswidodo
tribunjateng/faizal m affan
Giyarto, Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang. Berikut petikan wawancaranya. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Beberapa hari ini cuaca terasa sangat panas. Meski kadang-kadang malam hari turun hujan. Warga Kota Semarang juga merasakan udara panas dan tubuh gerah. Apa yang terjadi sebenarnya. Wartawan Tribunjateng.com Faizal M Affan wawancara eksklusif dengan Giyarto, Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang. Berikut petikan wawancaranya.
Apa yang terjadi dengan cuaca saat ini Pak?
Sebenarnya suhu yang dirasakan panas akhir-akhir ini hanya dinamika suhu harian. Terlebih, pada masa pancaroba naik dan turunnya suhu udara cukup dinamis.
Kenapa cuaca terasa lebih panas?
Rentan suhu antara 33 hingga 35 derajat celcius. Gerah atau panas yang dirasakan terjadi karena titik laten dari awan. Sebab awan juga mengeluarkan panas. Kota Semarang berada dekat dengan laut, sehingga saat malam hari muka air laut mengeluarkan panas. Itu hal yang wajar.
Apakah ada gelombang panas?
Iya gelombang panas terjadi di Eropa dan Amerika. Ciri-cirinya suhu udara akan naik 5 derajat dibandingkan saat suhu normal selama lima hari berturut-turut. Itu terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi.
Indonesia secara geografis berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda. Terlebih, Indonesia memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat.
Pada pertengahan Mei ini, posisi semu matahari sudah berada di Belahan Bumi Utara (BBU) di sekitar 19 derajat Lintang Utara. Kondisi tersebut membuat wilayah Indonesia akan memasuki periode angin timuran yang identik dengan musim kemarau.
Sekarang musim Pancaroba?
Iya pada masa pancaroba saat ini wilayah Kota Semarang dan sekitarnya akan mengalami cuaca ekstrem. Kondisi cuaca ekstrem akan menimbulkan hujan lebat disertai angin dan petir. Saat peralihan musim, mudah terjadi potensi awan kumulonimbus. Sebab micro brush dan down brush mudah terjadi. Bisa juga berpotensi terjadi puting beliung maupun hujan es.
Kapan itu terjadi Pak?
Kondisi cuaca tersebut akan terjadi hingga bulan Juli-Agustus karena sudah memasuki puncak kemarau. Saat memasuki musim kemarau udara akan cenderung lebih kering. Sekarang kan masih lembab. Jadi bikin gerah. Kalau nanti masa udaranya justru kering. Di wilayah Wonosobo dan Banjarnegara akan terjadi embun upas atau embun yang membeku.
Ada saran untuk masyarakat?
Untuk antisipasi dampak cuaca ekstrem, BMKG rutin sampaikan informasi terkini terkait prakiraan cuaca. Baik dalam waktu dua harian, 24 jam, 12 jam, hingga prakiraan cuaca setiap satu jam. Kami juga menyediakan informasi cuaca di berbagai media sosial yang BMKG miliki. (afn)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved