Breaking News:

Liputan Khusus

Coba Kita Itung Sumbangsih Destinasi Wisata untuk Pertumbuhan Ekonomi

Coba Kita Itung Sumbangsih Destinasi Wisata untuk Pertumbuhan Ekonomi. News Analisis oleh DR Angelina Ika Rahutami | Ekonom Unika Semarang

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
Pengamat Ekonomi, Angelina Ika Rahutami, Dosen Unika Soegijapranata 

News Analisis oleh DR Angelina Ika Rahutami | Ekonom Unika Semarang
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sejak pandemi COVID-19 pertama kali menghantam, sampai detik ini, dilema antara ekonomi dan kesehatan tidak pernah berhenti diperdebatkan. Seolah keduanya adalah ujung tali yang berada di kutub yang berbeda dan tidak dapat dibuat simpul.
Pro dan kontra ini kembali menyeruak ketika Lebaran kemarin tiba. Pro dan kontra penutupan tempat wisata dianggap mematikan geliat ekonomi. Benarkah?
Data terakhir Jawa Tengah jumlah penderita COVID-19 masih menunjukkan kenaikan, walaupun tidak setajam sebelumnya. Per tanggal 22 Mei, menurut data di situs https://corona.jatengprov.go.id/data, peningkatan kasus aktif (dirawat) adalah 673 orang, yang sembuh bertambah 306, penderita yang meninggal naik 32 orang, sehingga total terkonfirmasi meningkat 1011 orang.
Mengingat COVID-19 belum usai namun ekonomi tetap harus berjalan, maka perlu himbauan dan aturan dari pemerintah. Secara jelas, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan bahwa Destinasi Tujuan Wisata (DTW) tetap boleh buka asal memperhatikan protokol kesehatan.
DTW yang tutup adalah 178 lokasi, dan yang tetap buka adalah 494 DTW. Terlihat jelas bahwa keputusan ini didasarkan pada pertimbangan matang dari masing-masing Bupati/Walikota atau pun pengelola masing-masing DTW.
Tumbuh 1,69 Persen
Ekonomi Jawa Tengah saat ini memang sedang menggeliat, memiliki pola mirip dengan ekonomi nasional. Dampak COVID-19 pun memukul ekonomi Jawa Tengah dengan persentase yang mirip.
Pada triwulan I 2020, PDRB harga konstan Jawa Tengah adalah Rp 246,55 triliun, dan mengalami penurunan pada Triwulan 4, 2020 menjadi Rp 240,34 triliun, namun mengalami kenaikan pada Triwulan 1, 2021 menjadi Rp 244,41 triliun. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan 1, 2021 adalah 1,69 persen (month to month), namun secara year on year masih mengalami penurunan sebesar -0,87 persen.
Bagaimana dengan sektor pariwisata? Secara struktur ekonomi, sektor yang terkait dengan pariwisata adalah sektor akomodasi dan penyedia makanan dan minuman. Sektor ini memberikan kontribusi yang tidak terlalu besar dibanding industry pengolahan, pertanian, dan perdagangan. Kontribusi sektor akomodasi dan penyedia makanan dan minuman adalah sebesar 3,06 persen. Pada triwulan 1, 2021 sektor ini turun sebesar -4,57 persen (y-on-y).
Kedatangan Meningkat
Indikator lain yang paling mudah untuk menggambarkan kondisi sektor pariwisata adalah transportasi – yang menggambarkan mobilitas, dan tingkat hunian hotel. Data BPS Jawa Tengah menunjukkan bahwa penerbangan internasional yang berangkat dari dan datang ke Bandara Ahmad Yani pada Maret 2021 secara m-to-m mengalami perubahan sebesar 0 persen, dan secara y-on-y mengalami penurunan sebesar 100 persen.
Sedangkan untuk penerbangan domestik yang berangkat dari Semarang secara m-to-m per Maret 2021 mengalami kenaikan sebesar 47,79 persen, namun secara y-on-y turun sebesar 61,09 persen. Bagaimana dengan kedatangan. Data BPS menunjukkan bahwa terjadi kenaikan 62,62 persen (m-to-m), namun dibanding tahun lalu masih mengalami penurunan sebesar 55,62 persen. Bila dilihat dari lalu lintas laut, kedatangan secara m-to-m menunjukkan kenaikan sebesar 87,86 persen, namun secara y-on-y mengalami penurunan sebesar 32,08%. Data ini menunjukkan adanya kenaikan mobilitas bulanan entah untuk tujuan apa.
Untuk melengkapi data pariwisata maka kita perlu menengok perkembangan pariwisata di Jawa Tengah. Pada bulan Maret Tingkat Penghuni Kamar (TPK) total adalah 33,27 persen. TPK tertinggi terdapat di hotel bintang 5 yaitu 41,32 persen.
Angka yang sangat kecil karena berarti kurang dari 40 persen kamar yang dimanfaatkan. Dari sisi Rata-rata Lama Menginap (RLM), BPS mencatat pada bulan Maret adalah 1,34 malam, dengan RLM tertinggi hotel bintang 5 sebesar 1,46 malam. Kondisi yang sangat memprihatinkan untuk sektor pariwisata.
Beberapa DTW yang tutup selama libur lebaran kemarin, tentunya tidak akan memberikan dampak besar bagi perekonomian Jawa Tengah. Apalagi penutupan DTW tersebut didasarkan pada keputusan lokal, yang jauh lebih tahu pola wisatawan yang datang. Yang kedua, pemerintah Jawa Tengah bersikap konsisten untuk mengawal agar COVID-19 tidak merebak tanpa mengorbankan ekonomi. (tim)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved