Breaking News:

Pendaki Lawu Bakal Diingatkan Hati-hati Membuat Perapian, Jangan Sampai Bikin Kebakaran

Susilo menyampaikan, tahun ini diprediksikan merupakan siklus Karhutla sejak kejadian kebakaran skala besar pada 2019 lalu. 

Tribun Jateng/Agus Iswadi
ilustrasi kebakaran Gunung Lawu. 

Penulis: Agus Iswadi.

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta melakukan beberapa persiapan guna mengantisipasi siklus tiga tahunan Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla) di Gunung Lawu.

Pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Adm KPH Surakarta, Susilo Winardi saat Media Gathering di Green Resto Karanganyar pada Senin (31/5/2021). Berdasarkan informasi yang Perhutani Solo, siklus Karhutla dalam skala besar di Gunung Lawu terjadi tiga tahun sekali. 

Susilo menyampaikan, tahun ini diprediksikan merupakan siklus Karhutla sejak kejadian kebakaran skala besar pada 2019 lalu. 

"Kami saat ini baru memetakan, 2020 kemarin kemarau basah. Sempat juga diinformasikan bahwa siklus (kebakaran skala besar) Lawu itu 3 tahunan. Infonya begitu," katanya. 

Dia menuturkan, pihak Perhutani telah melakukan beberapa identifikasi penyebab Karhutla. Ada tiga faktor yang disinyalir berpotensi memicu terjadinya Karhutla. Seperti aktivitas pengarangan membuat arang, araman atau membakar rumput serta kemungkinan dari perapian para pendaki. 

"Untuk pendaki, kami sudah membuat rencana di tiap pos akan kami pasang papan peringatan. Selain menempatkan tenaga kami di tiap pos," ucapnya. 

Sedangkan terkait aktivitas pengarangan, pihak Perhutani masih melakukan identifikasi lokasi mana saja yang berpotensi memicu Karhutla dengan berkaca pada kejadian kebakaran pada tahun sebelumnya. 

Lanjutnya, Perhutani juga berupaya menggandeng asosiasi pengelola ekowisata di Tawangmangu.supaya melibatkan mereka dalam kegiatan wisata. Dengan begitu diharapkan orang yang sebelumnya melakukan aktivitas pengarangan dapat beralih profesi. 

Di sisi lain Perhutani juga akan menggandeng BPBD, TNI-Polri dan relawan untuk menggelar Apel Siaga Karhutla dalam waktu dekat. 

Sementara itu terkait penampungan air guna memudahkan penanganan Karhutla, saat ini Perhutani telah membuat satu bak penampungan di dekat Telaga Madirda Ngargoyoso. Pasalnya apabila membawa air dari bawah dengan menggunakan alat menuju ke atas untuk memadamkan api dirasa terlalu berat dan pemakainya hanya sedikit. 

"Kedepan kami akan berkoordinasi dengan BPBD karena untuk membuat titik itu harus diperhitungkan, mana yang kira-kira saat hujan air bisa tertampung dan tidak habis selama kemarau," ungkapnya. 

Adm KPH Surakarta, Sugi Purwanta menambahkan, hutan dan lahan yang dikelola KPH Solo di wilayah Soloraya ada sekitar 32 ribu hektare. Sebesar sekitar 60 persen merupakan hutan lindung. 

"Di Tawangmangu ada sekitar 5.000 hektare, sebagian besar hutan lindung," imbuhnya.

(*)

Penulis: Agus Iswadi
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved