Breaking News:

Berita Banjarnegara

Alasan Kenapa Petani Salak di Banjarnegara Pindah Tanam Pisang Setelah 20 Tahun Tanam Salak

Petani salak di Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara kini tengah resah karena produktifitas buah semakin menurun. 

Penulis: khoirul muzaki
Editor: Catur waskito Edy
khoirul muzaki
Ahmad Solihin di lahan salak yang telah berubah jadi kebun pisang di Desa Kaliurip, Banjarnegara, Selasa (1/6/2021) 

Khoirul Muzakki

TRIBUNBANYUMAS. COM, BANJARNEGARA -- Petani salak di Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara kini tengah resah karena produktifitas buah semakin menurun. 

Salak yang selama ini menjadi komoditas andalan petani di wilayah itu nyatanya kini tak lagi menjanjikan kesejahteraan.

Harga salak kerap tak menentu. Saat produktifitas buah jarang, terutama di musim kering, harga salak bisa melambung. 

Giliran panen melimpah, harga salak anjlok sampai di kisaran Rp 1000 perkilogram. Belum lagi, penanaman salak yang kian masif di dataran tinggi membuat stok buah di pasaran berlebih hingga memengaruhi harga. 

Bukan hanya masalah harga yang dikeluhkan petani, Ahmad Solihin, warga Desa Kaliurip Kecamatan Madukara mengeluhkan produktifitas salak yang menurun dalam beberapa tahun terakhir ini. 

Wajar saja, menurut Solihin, rata-rata tanaman salak di daerahnya sudah berumur tua. 

"Rata-rata umur salak di sini 20 - 30 tahunan, " katanya, Selasa (1/6/2021) 

Tanaman salak memang berusia panjang. Tetapi jika terlalu tua, menurut dia, tanaman itu pun akan menurun produktifitasnya. 

Masalahnya, rata-rata petani gagal mengantisipasi kondisi ini. Mereka selama ini hanya berfikir untuk menanam, kemudian mengeksploitasi buah tanaman itu dan menikmati hasilnya.  Sementara petani tidak menyiapkan regenerasi tanaman itu. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved