Breaking News:

Berita Salatiga

Mengenal Budaya Leluhur Lewat Menulis di Daun Lontar

Sejak runtuhnya Majapahit sekira tahun 1520 M, budaya menulis lontar di Pulau Jawa diprediksi hilang.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM/M NAFIUL HARIS
Sejumlah peserta saat mengikuti pelatihan menulis aksara Jawa dengan media daun lontar di Prasasti Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jumat (4/6/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit sekira tahun 1520 Masehi bersamaan itu, budaya menulis lontar di Pulau Jawa diprediksi hilang. Berbeda dengan di Pulau Bali tradisi menulis di daun lontar terus menerus dilakukan sampai sekarang. 

Ikhtiar mengenalkan warisan budaya leluhur kepada generasi muda Komunitas Salatiga Heritage menggelar pelatihan menulis aksara Jawa menggunakan daun lontar.

Pegiat Salatiga Heritage Warin Darsono mengatakan selain dampak runtuhnya kerajaan Majapahit masuknya teknologi digital membuat kebiasaan menulis lontar semakin ditinggalkan.

"Ditambah, proses pembuatan lontar sebagai bahan menulis juga tidak mudah. Setelah dibersihkan dan dipotong sesuai ukuran daun lontar harus direndam dalam air. Kemudian, direbus menggunakan campuran aneka rempah-rempah, baru kemudian dipipihkan sekira 6 bulan sampai setahun," terangnya kepada Tribunjateng.com, di Prasasti Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jumat (4/6/2021) 

Tidak hanya itu, menurut Warin, langkah selanjutnya daun lontar yang telah siap untuk dijadikan media menulis diperlukan alat tulis menyerupai pisau yang disebut pengrupak. 

Ia menambahkan, proses menulis memakai pengrupak yang dinilai cukup sulit ini karena praktiknya lebih menyerupai orang memahat atau mengukir tetapi dengan teknik berbeda membuat penulis lontar semakin sedikit. 

"Setelah beragam tahapan itu dilakukan agar tulisan dapat dibaca harus diolesi minyak kemiri. Jadi disela-sela menulis lontar, setiap tulisan dioles kemiri yang dibakar langsung lalu digosok ke lontar agar timbul jejak pahatannya," katanya

Warin menyatakan selain untuk menulis suluh dan tulisan sastra, lontar biasa digunakan untuk prasi atau lukisan yang disertai narasi. 

Penggunaan lontar di Jawa sendiri lanjutnya, terakhir ditemukan dalam naskah kuno Merapi Merbabu yang ditulis sekira abad 15 hingga 17. Naskah tersebut merangkum aksara Jawa, kegiatan keagamaan, dan juga primbon. Tetapi, naskah tersebut tersimpan di Jerman, Belanda, dan Rusia. 

"Selain perawatan lontar membutuhkan keahlian khusus dan secara berkala perlu dijemur diduga membuat tradisi menulis lontar di Jawa semakin ditinggalkan," ujarnya 

Seorang peserta pelatihan Ananing Pangesti  mengaku tertarik dengan pelatihan menulis lontar karena unik. Selain itu, mahasiswi UNS Surakarta ini untuk mengisi waktu luang karena perkuliahan masih daring. 

"Ini kan jarang ditemui, saya bisa belajar untuk pengembangan budaya. Saya juga menjadi tahu kalau daun lontar itu berasal dari pohon siwalan," paparnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved