Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Harga Kedelai di Semarang Melonjak, Ukuran Tempe Diperkecil

kenaikan harga kedelai tersebut tidak dibarengi dengan naiknya harga jual tempe sehingga membuat para produsen kewalahan untuk menyiasatinya.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/IDAYATUL ROHMAH
Perajin tempe di Kampung Tahu Tempe Lamper Tengah, Semarang Selatan. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah imbas pandemi Covid-19 terhadap perekonomian yang belum stabil, para perajin tempe kini semakin tercekik dengan melambungnya harga kedelai impor.

Pasalnya, kenaikan harga kedelai tersebut tidak dibarengi dengan naiknya harga jual tempe sehingga membuat para produsen kewalahan untuk menyiasatinya.

Hal itu di antaranya diakui Sakdun (51), perajin tempe di Kampung Tahu Tempe Lamper Tengah, Semarang Selatan.

Sakdun menyebutkan, dirinya dan puluhan perajin tempe di kawasan tersebut kini terpaksa menyiasati kenaikan harga kedelai dengan mengecilkan ukuran tempe.

Menurutnya hal itu merupakan cara agar di tengah lonjakan harga kedelai, harga tempe tetap stabil.

"Biasanya isi kedelainya lebih besar, sekarang isinya dikurangi agar harga tempe tetap sesuai harga pasar.

Kalau naik takutnya konsumen berkurang. Ini saja sudah diprotes," kata Sakdun saat ditemui Tribun Jateng, Minggu (6/6/2021).

Para perajin tempe di kawasan tersebut menyebutkan, lonjakan harga kedelai sudah terjadi selama 6 bulan terakhir ini.

Hadi Purnomo (55), perajin tempe lainnya mengatakan, harga perkilogram kedelai Amerika yang menjadi bahan baku sebelumnya pada kisaran Rp 6.000-Rp 7.000 perkilogram.

Namun hingga saat ini, lonjakan terjadi hampir dua kali lipatnya.

"Ini istilahnya ganti harga.

Awalnya Rp 6.200, Sekarang harga pada kisaran Rp 11.000 perkilogram," keluhnya.

Tingginya harga kedelai juga turut memengaruhi penjualan tempe.

Menurut Hadi, sebelum pandemi menerpa, ia mampu memproduksi kisaran 1 kwintal tempe perhari.

Namun sejak pandemi disusul kenaikan harga, perajin hanya mampu memroduksi kisaran 50 kilogram tempe perhari.

Satuan tempe dibanderol harga sama mulai Rp 1.000 (untuk tempe kecil berbungkus daun pisang) sampai Rp 10.000.

"Sejak harga naik, penurunan penjualan sampai 25 persen.

Mau produksi banyak-banyak tidak berani, kalau sisa kan juga rugi. 

Harapan utama yang penting harga turun agar penjualan bisa stabil, karena sudah lama juga tidak ada subsidi," tukasnya. (idy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved