Breaking News:

Puan Maharani Santer Dicalonkan PDIP di Pilpres 2024, Megawati bakal Realistis

Wacana pencalon Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani, baik sebagai cawapres maupun capres pada pilpres 2024 terus santer bermunculan.

Editor: Vito
Istimewa
Ketua DPP PDIP, Puan Maharani 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Wacana pencalon Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani, baik sebagai cawapres maupun capres pada pemilihan presiden (pilpres) 2024 terus santer bermunculan dalam beberapa waktu terakhir.

Dimulai dari dugaan adanya konflik antara Puan dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo terkait dengan tidak diundangnya orang nomor satu di provinsi ini dalam acara PDI Perjuangan di Kota Semarang pada Mei lalu, berbagai isu liar pun banyak bermunculan.

Pada akhir Mei lalu, politis PDI-P Effendi Simbolon bahkan mengusulkan Puan Maharani berpasangan dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Saya punya usul, saya bilang, Mbak Puan itu dipasangkannya harus sama Anies. Jangan lagi Prabowo. Jadi Puan capres, Anies cawapres," katanya, dalam diskusi virtual medcom.id bertajuk 'Puan Iri Hati atau Ganjar Tak Tahu Diri?', Minggu (31/5) lalu.

Direktur Eksekutif Indo Baromater, M Qodari juga melihat adanya dua opsi jika PDI Perjuangan dan Partai Gerindra berkoalisi. Satu di antaranya adalah menduetkan Prabowo dengan Puan pada Pilpres 2024.

"Opsi yang paling memungkinkan adalah Puan Maharani, tetapi belum tahu karena perjalanan politik, pendaftaran calon masih Juni 2023, jadi dilihat dinamika dua tahun ke depan," ujarnya.

Terkait dengan wacana capres dari PDI Perjuangan, Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia (UI), Aditya Perdana menyatakan, PDI Perjuangan termasuk partai yang solid secara organisasi. Karena kesolidan itu, ia menyebut perintah ketua umum adalah segalanya.

"Jadi kalau Bu Mega bilang pencalonan presiden menunggu waktu, berarti belum ada nama yang memang diusung oleh PDI-P. Jadi siapa pun nama yang digadang-gadang itu berpeluang, termasuk Puan dan Ganjar," katanya, kepada Kompas.com, Minggu (6/6).

Menurut dia, di internal PDI Perjuangan memiliki dua kelompok besar, yaitu kelompok yang memandang trah Soekarno harus diteruskan, dan kelompok yang bukan dari trah Soekarno, tapi bagian dari kader PDI Perjuangan.

Aditya berujar, kelompok pertama selalu menganggap bahwa setelah Megawati, Puan-lah sosok yang akan meneruskannya.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved