Breaking News:

Banyak Pasien Positif Corona Karantina di Rumah Malah Meninggal, Bupati Sragen: Besok Kita Larang!

Masyarakat Sragen yang terkonfirmasi Covid-19 kini dilarang melakukan isolasi mandiri (isoman).

Tribun Jateng/Mahfira Putri Maulani
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. 

Penulis : Mahfira Putri Maulani

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Masyarakat Sragen yang terkonfirmasi Covid-19 kini dilarang melakukan isolasi mandiri (isoman).

Bagi yang terkonfirmasi akan langsung dijemput menuju Gedung Technopark Sragen bagi yang tanpa gejala.

Sementara pasien yang memiliki penyakit bawaan akan menjalani di dua RSUD Sragen maupun RS swasta di Sragen. Hal ini dilakukan sejak angka kematian Covid-19 semakin tinggi.

Selama ini, masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19 diperbolehkan melakukan isoman atas izin masyarakat maupun dinas.

Namun akhir-akhir angka kematian Covid-19 paling banyak disumbangkan dari masyarakat yang melakukan isoman. Sehingga Pemkab Sragen kini melarang masyarakat yang melakukan isoman.

"Angka kematian meningkat ini karena ada beberapa faktor pertama pasien yang isolasi mandiri dirumah keadaannya memburuk. Dibawa ke rumah sakit dalam kondisi yang buruk kemudian meninggal dunia."

"Kami membuat kebijakan bahwa mulai besok Isoman di rumah masing-masing itu tidak diizinkan jadi begitu positif langsung diangkut Technopark," terang Yuni.

Yuni melanjutkan apabila ada masyarakat yang menolak di karantina di Technopark pihaknya akan meminta bantuan TNI Polri untuk membawa pasien tersebut.

Pihaknya mencatat beberapa kasus kematian Covid-19 dari warga yang isoman di rumah mereka tidak patuh. Selain itu, pasien keadaan semakin memburuk namun tidak jujur ke petugas.

Selain itu, tingginya angka kematian dikarenakan ketersediaan obat Actemra kosong. Sehingga membuat beberapa pasien tidak bisa diterapi dengan obat tersebut.

"Mengatasi ini provinsi sekarang yang akan drop obat dari provinsi. Tapi tidak banyak langsung misal 160 file ya begitu habis kita minta lagi nanti dikirim lagi," katanya.

Angka kematian tertinggi di Kabupaten Sragen berasal dari pasien yang dirujuk ke RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen, kemudian RSUD dr Soeratno Gemolong dan RSI Amal Sehat.

Yuni menyebut selain menjadi RS rujukan, kondisi pasien juga sudah buruk ketika masuk ke RS. Dari rapat tersebut Yuni mendapatkan laporan beberapa kendala dari RS.

Mulai dari kurangnya sarana dan prasarana hingga ketersediaan obat yang semakin menipis hingga kosong.

Penulis: Mahfira Putri Maulani
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved