Breaking News:

Berita Banjarnegara

Menengok Kehidupan Pemulung TPA di Banjarnegara di Masa Pandemi Covid 19, Biasa Saja

Aroma tak sedap langsung menyergap saat memasuki TPA di Desa Winong, Kec Bawang Banjarnegara, Rabu (8/6).

Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Pemulung mengais sampah di TPA Winong, Bawang Banjarnegara 

TRIBUNBANYUMAS. COM, BANJARNEGARA - Aroma tak sedap langsung menyergap saat memasuki Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Desa Winong, Kecamatan Bawang Banjarnegara, Rabu (8/6/2021). Beberapa kendaraan pengangkut sampah hilir mudik. 

Deru mesin kendaraan memantik para pemulung untuk beranjak dari tempat rehatnya.  Sampah yang dibuang masyarakat, bagi mereka justru dirawat.  Dari situ, mereka menghasilkan pundi rupiah. 

Karena itu, mereka menyambut gempita ketika truk-truk sampah masuk TPA. Mereka mengeroyok sampah yang diturunkan dari bak kendaraan.  Berbekal tongkat besi yang dibengkokkan, para pemulung mengais sampah yang masih laku dijual. 

"Truknya biasanya datang siang, menunggu sampah diturunkan, " kata Murtinah, warga Dusun Gunungsari Desa Winong, Rabu (8/6/2021) 

Bau menyengat seperti tak mereka hiraukan. Nyatanya, tak tampak masker menutupi hidung para pemulung ini. 

Bukan hanya aroma busuk, wujud sampah yang menjijikkan pun tak dipedulikan.  Ribuan lalat yang mengerubung sudah menjadi teman dalam keseharian. 

Sejak memutuskan menjadi pemulung, mereka memang harus siap dengan kondisi seperti itu. Terlebih bagi Murtinah yang telah 15 tahun menekuni profesi tersebut. 

"Saya sudah 15 tahun, di sini ada sekitar 30 pemulung," katanya

Murtinah yang telah berusia senja belum memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya.   Bergelut dengan sampah tentu bukan impian setiap orang untuk mendapatkan uang.  Tetapi bagi Murtinah dan puluhan pemulung lain di TPA Winong, mata pencahariaan ini sudah menjadi sumber penghasilan. 

Murtinah masih harus menghidupi anak dan cucunya di rumah. Meski kemampuannya mengais sampah kini terbatas. Fisiknya melemah karena usia. Ia sadar hasil yang ia dapat tak akan sebanyak dari pemulung muda. 

"Saya sudah tua, dapatnya mungkin beda dengan yang lain. Paling Rp 40 ribu itu sudah banyak, " katanya

Karena menjadi mata pencaharian pokok, Murtinah terus menekuninya. Pandemi Covid 19 pun tak menghalanginya untuk tetap bekerja.  Tiap hari, ia tetap berkerumun dengan teman-temannya untuk mengais sampah. 

Murtinah santai saja menyikapi pandemi Covid 19. Meski pandemi telah berlangsung setahun lebih, ia justru mengaku masih belum mengerti sejatinya Covid 19. 

Karenanya, meski dunia mencekam karena Covid 19, Murtinah biasa saja menjalani kehidupan. Ia tetap beraktivitas normal. Ia tetap bergumul dengan sampah tiap hari di TPA.  Seakan, dunia baik-baik saja baginya. 

"Karena tidak tahu ya biasa-biasa saja. Takut juga tidak, senang juga tidak, biasa saja. Tidak tahu corona itu seperti apa, " katanya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved