Breaking News:

Tren Kasus Covid-19 Melonjak Lagi: Ada Euforia Usai Vaksinasi 

faktor yang memicu terjadinya lonjakan kasus covid-19 adalah masyarakat mulai abai menerapkan protokol kesehatan karena euforia sudah divaksinasi.

Editor: Vito
Shutterstock
Ilustrasi virus corona yang merebak di Indonesia. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kasus baru covid-19 di Indonesia melonjak semakin kencang dalam beberapa waktu terakhir. Melansir data Satgas Covid-19, hingga Kamis (10/6) ada tambahan 8.892 kasus baru infeksi virus corona di Indonesia, sehingga jumlah total menjadi 1,88 juta kasus positif.

Sementara itu, jumlah yang sembuh dari infeksi virus corona bertambah 5.661 orang, sehingga menjadi sebanyak 1,72 juta orang. Sedangkan jumlah orang yang meninggal akibat covid-19 di Indonesia bertambah 211 orang menjadi sebanyak 52.373 orang.

Terus meningkatnya kasus harian covid-19 bahkan menyebabkan banyak tenaga kesehatan yang sudah divaksin juga ikut terpapar, hingga keterisian tempat tidur rumah sakit nyaris penuh.

Hal itu terjadi setelah pandemi covid-19 di Indonesia sempat stagnan berada di zona 'aman' sejak pertengahan Februari 2021. Indonesia sempat mengalami puncak kasus tertinggi mencapai 14 ribu kasus dalam sehari di akhir Januari 2021.

Kasus harian kini meningkat kembali nyaris mendekati 9 ribu dalam sehari. Lonjakan kasus pada sepekan terakhir diperkirakan sebagai dampak dari Idulfitri 1442 Hijriah.

Lonjakan kasus virus corona mulai marak ditemukan di sejumlah kabupaten/kota kecil hingga komunitas mikro seperti RT/RW di Indonesia, setidaknya dalam dua pekan terakhir.

Analisis pemerintah maupun masing-masing daerah mencatat kumpulan penyumbang kasus covid-19 terbanyak berasal dari klaster keluarga. Hal itu seperti terjadi di Kudus, Jateng.

Bupati Kudus HM Hartopo menyebut, penyebab terjadinya lonjakan kasus covid-19 di Kabupaten Kudus usai libur Lebaran 2021.

Menurut dia, satu faktor yang memicu terjadinya lonjakan kasus covid-19 adalah masyarakat mulai abai menerapkan protokol kesehatan karena euforia sudah divaksinasi.

"Karena menganggap setelah divaksinasi itu bisa antivirus. Padahal vaksinasi itu hanya meningkatkan antibodi untuk imun, sehingga kalau terpapar ada gejala yang tidak berat," katanya, dalam diskusi secara virtual, Kamis (10/6).

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved