Breaking News:

Covid-19 Masih Menyebar Cepat dengan Banyak Mutasi, Varian Delta Gandakan Risiko Pasien

Sebuah penelitian di Skotlandia menunjukkan, varian delta menggandakan risiko rawat inap dibandingkan dengan varian dominan sebelumnya di Inggris.

Editor: Vito
Tribun Bali
Ilustrasi Virus Corona 

TRIBUNJATENG.COM, EDINBURGH - Virus corona masih mengganas di berbagai negara, dengan munculnya berbagai varian baru akibat mutasi, khususnya varian delta yang awalnya diidentifikasi di India.

Varian itu telah memicu kekhawatiran baru karena penyebarannya yang dinilai cepat dan masif. Hingga saat ini, sudah ada 74 negara yang dilaporkan telah terdeteksi oleh varian tersebut.

Mengutip The Guardian, wabah varian delta itu sudah dikonfirmasi di China, AS, Afrika, dan negara-negara di lingkar pasifik, termasuk Indonesia.

Para ilmuwan juga melaporkan varian itu lebih menular bahkan menyebabkan penyakit yang lebih serius.

Sebuah penelitian di Skotlandia yang dirilis pada Senin (14/6) menunjukkan, varian delta menggandakan risiko rawat inap dibandingkan dengan varian dominan sebelumnya di Inggris.

Akan tetapi, dua dosis vaksin masih memberikan perlindungan yang kuat terhadap varian ini.

Reuters memberitakan, hasil studi menunjukkan, terdapat bukti awal bahwa perlindungan dari vaksin terhadap varian delta, yang pertama kali diidentifikasi di India, mungkin lebih rendah daripada efektivitasnya terhadap varian Alpha, yang pertama kali diidentifikasi di Kent, Inggris tenggara.

Studi yang diterbitkan dalam surat penelitian di Lancet, mengamati 19.543 kasus komunitas dan 377 kasus rawat inap di antara 5,4 juta orang di Skotlandia. Dari angka tersebut, sebanyak 7.723 kasus dan 134 kasus rawat inap di antaranya ditemukan memiliki varian delta.

Chris Robertson, Profesor Epidemiologi Kesehatan Masyarakat, Universitas Strathclyde, mengatakan, menyesuaikan dengan usia dan komorbiditas, varian delta secara kasar menggandakan risiko rawat inap, tetapi vaksin masih mengurangi risiko itu.

"Jika Anda dites positif, maka dua dosis vaksin atau satu dosis selama 28 hari secara kasar mengurangi risiko Anda dirawat di rumah sakit hingga 70 persen," katanya kepada wartawan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved