Breaking News:

Puisi

Puisi Jumat Dalam Pete-pete Shinta Febriany

Puisi Jumat Dalam Pete-pete Shinta Febriany: lelaki tua dengan sajadah di pundaknya. pasar senggol adalah perhentian. menjadi lelaki tua tidak mudah, 

Penulis: iam | Editor: abduh imanulhaq
GPU.COM
Shinta Febriani 

Puisi Jumat Dalam Pete-pete Shinta Febriany

TRIBUNJATENG.COM - Puisi Jumat Dalam Pete-pete Shinta Febriany:

jumat dalam pete-pete

lelaki tua dengan sajadah di pundaknya. pasar senggol
adalah perhentian. menjadi lelaki tua tidak mudah, nak.
terkadang, perempuan menciptakan kesedihan
untuk dirinya, seperti awan yang tiba-tiba hitam, tetapi tidak
membawa hujan atau gerimis sekalipun, mungkin
kampung menyimpan musim yang represi dibanding
seorang suami. pernikahan pun kembali melahirkan
istri, berkali-kali. seorang polisi menjadi juara mengaji.

tiga orang anak lelaki sekolah menengah pertama,
duduklah agak ke dalam. kita tak akan pernah tahu
siapa yang mengetuk pintu. bisa hantu, yang tiba-tiba
merampas uang jajanmu yang pas-pasan. hantu ada di
mana-mana. hantu bahkan ada di sekolah. ia membuat
kening seorang ibu berkerut, ia membuat seorang
bapak tak ingin memandang cermin. apa kau masih
bermimpi untuk masuk sekolah, nopi?

lelaki awal tiga puluh, kira-kira. ia lupa nama hari, tapi
di pasar sentral ada masjid. kopiah hanya jilid kedua,
mungkin ketiga, setelah lutut. aku tak tahu pasti. itu
menurut makna sebuah bahasa yang mengalami
migrasi. apa yang dia inginkan dari pertanyaan-
pertanyaan basi? dengar, aku tinggal bersama ibu dan
ayahku di jalan anu, kuliah di universitas anu sejak tiga
tahun lalu. apakah otakmu mencatat jawaban itu? aku
turun duluan.

aku tak memihak eye shadow merah muda di kelopak
mataku. aku tak memihak gincu merah jambu, tipis di
bibirku. ibuku bilang, gula itu manis tapi jangan pulang
tengah malam.

makassar, agustus 2002
pete-pete = istilah angkot di makassar

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved