Berita Semarang

Apakah Vaksin Covid-19 Masih Ampuh Tangkal Delta Ditemukan di Kudus? Ini Kata Ahli UGM

Virus corona varian baru yakni B.1.617.2 atau Delta di Jawa Tengah ditemukan di Kudus. Hasil itu berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: m nur huda
Istimewa
Ketua Tim Genomic Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Gunadi (kanan) saat webinar varian Delta Kudus 

Penulis: Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Virus corona varian baru yakni B.1.617.2 atau Delta di Jawa Tengah ditemukan di Kudus.

Hasil itu berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) terhadap puluhan sampel.

Varian baru ini juga diduga menyebar ke daerah lain, jika dilihat dari ciri-ciri gejala penderita dan transmisinya yang cenderung cepat Namun demikian, belum ada hasil pemeriksaan resmi terkait itu.

Ahli meyakini jenis vaksin yang sudah ada saat ini tetap bisa digunakan untuk menangkal berbagai jenis varian covid.

Namun demikian, ada penurunan efikasi atau efektifitas. Namun, dari sisi perlindungan masih cukup ampuh untuk diandalkan.

"Secara umum ada efek protektif secara umum jika telah vaksinasi. Dosisi kedua (vaksin) memberikan cukup efektif dibandingkan dosisi pertama, dosisi pertama lebih baik daripada tanpa vaksinasi," kata Ketua Tim Genomic Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Gunadi, saat webinar terkait varian virus Delta Kudus, Rabu (16/6/2021).

Namun demikian, kata dia, ada pengaruh terhadap imunitas. Varian Delta tetap berpengaruh pada respon imun atau vaksin. Penurunan efektivitas vaksin juga dipengaruhi usia dan berjalannya waktu pemberian vaksin.

Gunadi menjelaskan berdasarkan penelitian, semakin tinggi usia atau semakin tua penderita menyebabkan risiko imun menurun. Perbandingan penderita usia 40 dan 60 tahun dimana warga berusia 60 tahun mengalami penurunan sistem imun.

Selain itu, lamanya pemberian vaksin juga berpengaruh. Tiga bulan setelah vaksin dosis kedua, terjadi penurunan sistem imun. Karena itu, menurutnya perlu pertimbangan pemberiaan booster setelah vaksin kedua.

"Ada pengaruh terhadap transmisi dan imunitas. Transmisi meningkat dan menurunkan imunitas. Ini bisa mengelabui sistem imun," tandasnya.

Ia menerangkan kasus yang terjadi di United Kingdom (UK), awalnya virus varian Delta sedikit, namun setelahnya mendominasi.

"Jika dilihat grafiknya di UK saat ini, kalau boleh meminjam tagline UGM, varian Delta di UK mengakar kuat menjulang tinggi. Karena itu, kita harus waspada dengan varian Delta ini," kata lulusan doktor bidang ilmu kesehatan di Universitas Kobe Jepang ini.

Gunadi menjelaskan WHO membagi dua varian baru covid yakni variants of concern (VOCs) yang perlu diwaspadai lantaran keganasannya dan menjadi ancaman kesehatan global. Yang kedua yakni variants of interests (VOIs) yang tidak seganas VOCs namun tetap menjadi perhatian.

Virus yang menjadi variants of concerns yakni Alpha, Beta, Gamma, dan Delta. Sedangkan variants of interests meliputi Epsilon, Zeta, Eta, Theta, Iota, dan Kappa.

Gunadi menjelaskan berdasarkan hitung-hitungan peneliti terkait transmisi, Delta lebih menular 41-60 persen ketimbang varian Alpha atau B.1.1.7 atau virus Inggris.

"Padahal, virus Alpha lebih transmisi 70 persen dibandingkan virus yang pertama kali dijumpai di Wuhan (Cina). Artinya, Delta lebih menular atau transmisinya dibandingkan Alpha dan yang ada di Wuhan," imbuhnya.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved