Breaking News:

Pendidikan

Departemen HI Undip Gali Pandangan Akademisi Terkait Politik Luar Negeri Kamboja sebagai Ketua ASEAN

Departemen Hubungan Internasional Universitas Diponegoro (Undip) menggelar diskusi panel dengan KBRI Kamboja.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: moh anhar
ISTIMEWA
Diskusi panel yang digelar Departemen Hubungan Internasional Undip dengan KBRI Kamboja secara virtual, kemarin. 

Penulis: M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Departemen Hubungan Internasional Universitas Diponegoro (Undip) menggelar diskusi panel dengan KBRI Kamboja bertajuk "the Foreign Policy of Cambodia on Bilateral and Regional Level: Its Impact and Benefits for Indonesia and ASEAN".

Sekretaris Program Studi Hubungan Internasional Undip, Marten Hanura mengatakan, pada tahun 2022 kerjasama antara Kamboja dan Indonesia perlu ditingkatkan karena kedua negara akan menjadi ketua pada organisasi internasional yang cukup berpengaruh.

Marten juga mengatakan diskusi panel yang diadakan secara daring ini bertujuan untuk mendapatkan pandangan dari para akademisi mengenai politik luar negeri Kamboja, posisi dan fokus Kamboja saat menjabat Ketua ASEAN pada 2022 dalam hubungannya dengan Indonesia dan bagaimana Indonesia memandang ASEAN.

Baca juga: Polisi Ringkus Penjual Online Asal Pati, Transaksi Fiktif di Marketplace, Raup Cashback Rp 54 Juta

Baca juga: Sebanyak 1.752 KPM di Karanganyar Terima Kartu Keluarga Sejahtera, Bisa Ditukar Sembako Gratis

Baca juga: Selama Pandemi Corona, Pendaftar Jemaah Haji di Batang Menurun

"Tercatat sekitar 170 peserta dari Indonesia, Kamboja dan beberapa negara lain yang mengikuti diskusi panel yang diselenggarakan secara hybrid ini," ujarnya, dalam rilisnya, Jumat (18/6/2021).

Duta Besar RI untuk Kamboja, Sudirman Haseng menjelaskan, saat ini Kamboja menjadi Ketua ASEAN sedangkan Indonesia menjadi Ketua G-20 sehingga kerjasama kedua negara diharapkan bisa membantu memajukan kawasan ASEAN, terutama untuk mengatasi ekonomi yang menurun dikarenakan dampak pandemi Covid 19. 

"21 tahun setelah bergabung dalam ASEAN, Kamboja memiliki banyak kesempatan dan capaian. Diskusi panel ini akan sangat bermanfaat untuk mendapatkan informasi dari para panelis mengenai fokus Keketuaan Kamboja pada tahun 2022 untuk memperkuat identitas Komunitas ASEAN," ujarnya.

Hadir sebagai narasumber adalah Dr. Edy Prasetyono, dosen senior sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Studi ASEAN, Universitas Indonesia, Dr. Chheang Vannarith, Presiden Asian Vision Institute, Kamboja dan Uch Leang, Acting Director of the Department of Asian, African and Middle East Studies of the International Relations Institute of Cambodia.

Para panelis menyampaikan bahwa Keketuaan ASEAN yang pada tahun 2022 akan diampu oleh Kamboja dan oleh Indonesia pada 2023 memiliki banyak kesempatan dan tantangan yang menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh anggota ASEAN.

Baca juga: Tempat Isolasi Balai Diklat Pemkot Semarang Sudah Dibuka, Kapasitas 100 Tempat Tidur

Baca juga: Mencoba Menghindar Saat Ada Jalan Berlubang, Pemotor di Kemangkon Purbalingga Tabrak Mobil

Baca juga: Video Jazz Vs Agya Terguling Tabrak Tebing di Bandungan Semarang

Bagi Ketua ASEAN, Edy menegaskan secara umum tantangan yang dihadapi oleh ASEAN adalah pandemi yang menyebabkan stagnasi bahkan penurunan ekonomi.

"Bagaimana menyeimbangkan dan memelihara ASEAN-driven regionalism, dan menyeimbangkan kepentingan nasional dengan keterikatan dan tekanan dari negara-negara besar," paparnya.

Secara khusus, Uch Leang yang mendiskusikan Keketuaan Kamboja pada tahun 2022 menyatakan bahwa kebutuhan Kamboja pada tahun 2022 sebagai ketua ASEAN adalah untuk terus menjaga dan mengelola lingkungan yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas guna menopang kemakmuran kawasan. 

Baca juga: Jadwal MotoGP 2021 Jerman, Sirkuit Sachsenring Cocok dengan Marc Marquez

Baca juga: Klasemen Lengkap Euro 2021, Italia, Belgia dan Belanda Kokoh di Puncak

Baca juga: Harga Tiket Masuk Pantai Alam Indah Tegal Bakal Dinaikkan

"Kompetisi antar negara di seputar Laut China Selatan dan masalah Myanmar yang sangat kompleks, akan menjadi batu panas dan ujian bagi Kamboja di tahun 2022. Kamboja akan terus mempromosikan tata kelola global untuk memperkuat sistem multilateral, memerangi perubahan iklim dan pemulihan ekonomi pasca pandemi sebagai prioritas," kata Leang.

Sedangkan Dr. Chheang Vannarith menggarisbawahi peran kepemimpinan Indonesia dalam ASEAN, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan Kamboja. Vannarith memuji peran mediator yang dimainkan Indonesia dalam penyelesaian sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand di tahun 2011. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved