Kasus Covid-19 Terus Melonjak, IAKMI: Butuh Kebijakan Radikal

Pemerintah didorong menerapkan kebijakan yang radikal untuk dapat keluar dari lonjakan pandemi covid-19 saat ini, antara lain lockdown.

Editor: Vito
Istimewa
Ilustrasi penanganan pasien covid-19 di salah satu rumah sakit di Kabupaten Tegal. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kasus terkonfimasi positif covid-19 di Indonesia terus melonjak dengan penambahan infeksi harian melewati angka 10.000 kasus dalam beberapa waktu terakhir, setelah sepat melandai selama 4 bulan.

Data Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan, pada Minggu (20/6), terdapat penambahan 13.737 kasus baru, sehingga menyebabkan jumlah total infeksi di Tanah Air kini mencapai 1,98 juta orang, terhitung sejak diumumkannya kasus pertama pada 2 Maret 2020.

Selain itu juga terjadi penambahan kasus kematian akibat covid-19. Dalam 24 jam terakhir, dilaporkan ada penambahan 371 kasus kematian, sehingga total pasien covid-19 meninggal dunia mencapai 54.662 orang.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mendorong pemerintah menerapkan kebijakan yang radikal untuk dapat keluar dari lonjakan pandemi covid-19 saat ini.

"Kita harus memutuskan satu sebagai prioritas dan harus ada extraordinary initiative atau extraordinary policy making kalau mau memutus mata rantai covid-19. Negara mayoritas yang sudah melewati puncak kasus, menggunakan optimum social restriction atau lockdown," cetusnya.

Menurut dia, pemerintah memiliki dua opsi yang bisa diambil saat ini, yakni PSBB ketat atau lockdown regional. Ia berujar, pilihan yang paling radikal adalah lockdown.

Ada dua opsi yang diusulkan IAKMI. Pertama, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) nasional. Kedua, lockdown regional secara berkala di pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

"Pemerintah harus radikal. Opsinya ada dua, mau PSBB seperti semula, atau lockdown regional terbatas pada pulau besar. Opsi paling radikal tentunya lockdown regional, radikal tapi paling logis," katanya, dalam Konferensi Pers 'Desakan Emergency Responses: Prioritas Keselamatan Rakyat di Tengah Pandemi' dalam YouTube, Minggu (20/6).

Hermawan menyebut, lockdown regional merupakan opsi yang bisa membantu Indonesia keluar dari situasi lonjakan pandemi covid-19. Ia menegaskan, lockdown dapat memutus mobilitas orang dengan ketat.

Lockdown juga menjadi opsi yang disarankan, karena berkaca pada negara-negara yang sukses mengatasi pandemi covid-19.

Beberapa di antaranya seperti Australia, Jerman, Belanda, dan beberapa negara lainnya di Eropa. "Cara itu yang paling riil. Kalau tidak ya ekonomi terus terpuruk," paparnya.

Hermawan menyatakan, kerugian ekonomi akibat penerapan lockdown dapat diukur oleh pemerintah. Dengan demikian, ketika kesehatan pulih, ekonomi nasional pun bisa dipulihkan.

Ia menilai, hingga saat ini belum ada kebijakan yang cukup kuat dari pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

Ia juga mengkritik kebijakan 'gas-rem' yang seringkali jadi narasi Presiden Joko Widodo saat kasus melonjak. Menurutnya, kebijakan 'gas-rem' tak cukup kuat mengatasi pandemi, bahkan bisa jadi bom waktu.

"Rem-gas, rem-gas itu adalah kebijakan terkatung-katung yang membuat kita hanya menunda bom waktu (ledakan kasus-Red)," tukasnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved