Breaking News:

Stikes Telogorejo Semarang

Patuhi Aturan Pakai Saat Minum Obat

Pada beberapa obat, terdapat pula aturan pakai yang diharuskan untuk diminum sebelum, saat  atau pun sesudah makan.

Editor: abduh imanulhaq
Istimewa
Apt. Fransisca Gloria, M.Farm, Dosen Prodi S-1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang 

Oleh: Apt. Fransisca Gloria, M.Farm

Dosen Prodi S-1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

SETIAP orang pasti pernah mengalami sakit, baik itu ringan, sedang maupun berat. Untuk sembuh, maka kita harus minum obat berdasarkan resep yang telah diberikan oleh dokter kepada apoteker. Selanjutnya apoteker menyerahkan obat kepada pasien disertai dengan komunikasi, edukasi dan konseling (KIE) terkait dosis (takaran) obat yang tepat, aturan minum, cara pakai obat yang benar, dan penyimpanan obat.

Dewasa ini, banyak orang yang ketika sakit, rajin minum obat dan bahkan berfikir untuk menggandakan (minum obat dalam jumlah banyak) agar hasil yang didapat lebih cepat berefek. Setelah tubuh dirasa membaik, maka obat dihentikan. Tindakan ini tentu saja tidak tepat. Banyak kasus terjadi akibat penggunaan obat yang tidak sesuai dengan aturan minum obat sehingga menyebabkan pasien mengalami pusing, mual/muntah, timbul reaksi alergi, sesak napas, jantung berdebar-debar hingga kematian.

Sebuah kasus yang terjadi di salah satu kota besar di Indonesia, pada salah satu Rumah Sakit Umum Daerah mengakibatkan seorang pasien meninggal yang diduga akibat over dosis dan reaksi alergi yang ditimbulkan oleh obat. Pasien diberikan resep obat berupa antibiotik (Ethambutol 400 mg), obat lambung (Omeprazole 20 mg), dan suplemen (Curcuma). Efek yang ditimbulkan, tubuh pasien lemas dan membiru serta bagian bibir mengalami pembengkakan setelah selama 1 minggu mengonsumsi obat. 

Kasus lain yang terjadi di kota besar di Indonesia, seorang laki-laki dengan sengaja meminum obat batuk sachet (mengandung dextromethorphan) dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk mendapatkan kesenangan semata. Hal ini dikarenakan, efek samping yang ditimbulkan dari obat tersebut jika dikonsumsi dalam jumlah besar maka seseorang tersebut akan mengalami halusinasi, hilang akal, mendapatkan kepuasan sementara (fly) dan berujung pada kematian.  

Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, obat merupakan bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Hendaknya, kita menggunakan obat dengan bijak, sebagai contoh pasien harus ingat dan paham, berapa kali dalam sehari obat diminum.

Hal ini berkaitan dengan dosis obat yang akan masuk ke dalam tubuh. Jika obat yang diminum lebih dari yang seharusnya, maka akan terjadi over dosis (konsumsi obat melebihi aturan minum). Efek over dosis yang ditimbulkan antara satu obat dengan obat yang lainnya pun berbeda dan tidak sama antara satu pasien dengan pasien lainnya.

Kepatuhan merupakan bentuk perilaku seseorang yang sulit untuk dilakukan. Perilaku tidak patuh minum obat pun ternyata banyak menyerang pada pasien dewasa dengan alasan kesibukan sehingga lupa untuk teratur minum obat bahkan untuk praktisnya maka dalam minum obat langsung digandakan (dirapel). Diperlukan upaya dan komitmen yang kuat agar seseorang patuh dalam minum obat.

Kepatuhan minum obat erat kaitannya dengan aturan minum yang tertera pada etiket (kemasan) obat. Aturan minum obat ini menginformasikan tentang waktu dan berapa kali obat harus digunakan (misal obat minum) dalam sehari.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved