Breaking News:

Berita Batang

Bumdes Ponowareng Batang Olah Sampah Jadi Pupuk Organik, Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Ponowareng Kecamatan Tulis, Batang berinisiatif memproduksi pupuk organik dari sampah.

Penulis: dina indriani | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG/DINA INDRIANI
Sejumlah warga mengolah sampah menjadi pupuk organik di Bumdes Desa Ponowareng Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Kamis (24/6/2021) 

TRIBUNJATENG.COM,BATANG - Untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia oleh petani sekitar, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Ponowareng Kecamatan Tulis, Batang berinisiatif memproduksi pupuk organik dari sampah.

Meskipun baru dua bulan berdiri, namun Bumdes Karya Sejahtera mampu menghasilkan sebanyak 5 sampai 6 kwintal pupuk organik dalam sebulan. 

Dengan adnya Bumdes tersebut juga mengurangi angka pengangguran sebab bisa memberdayakan 5 pemuda desa dalam pembuatan pupuk tersebut. 

Kepala Desa Ponowareng Widodo mengatakan untuk pengembangan pertanian sesuai visi misinya yaitu meminimalisir pemakaian pupuk kimia oleh petani.

Untuk itu pihaknya berinisiatif mengolah sampah menjadi pupuk organik yang juga bernilai jual.

"Selain itu, dengan dijadikan pupuk juga bisa mengurangi jumlah sampah di masyarakat," ujarnya, Kamis (24/6/2021).

Widodo menjelaskan pupuk organik yang dikelola Bumdes mengambil sampah dari warga dan ditampung di TPA.

Kemudian dipilah-pilah antara organik dan non organik, lalu yang organik diolah menjadi kompos. 

Sampah sayur dan sebagainya diolah menjadi pupuk cair atau mol dan yang daun-dauanan diolah menjadi kompos. 

Dia mengklaim pupuk hasil produknya berkualitas sehingga diminati dan banyak permintaan dari para petani.

Bahkan pihaknya juga kewalahan memproduksi pupuk karena permintaan yang cukup banyak.

"Insya Allah nanti ke depan akan menambah tenaga kerja, agar kami bisa memenuhi permintaan," tuturnya.

Pengelola Sampah, Dwi Saloka menambahkan dalam pembuatan pupuk organik dimulai dari pemilahan sampah.

Kemudian dipotong di mesin pencacah dan dicampurkan dengan air serta bakteri fermentasi didiamkan selama dua minggu hingga satu bulan. 

"Untuk harga  belum matok tapi kalau kita mengacu pada yang sudah ada satu kilo Rp 3 Ribu," pungkasnya.(din)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved