Breaking News:

Berita Banjarnegara

Tinggal Menumpang dan Punya Tanggungan Keluarga, Jirno Difabel Banjarnegara Berharap Dapat PKH

Merantau bukan pilihan mudah bagi setiap orang, ada keluarga yang ditinggalkan.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Jirno mengaji di rumah saudaranya di Desa Kutawuluh, Banjarnegara. 

TRIBUNBANYUMAS. COM, BANJARNEGARA - Merantau bukan pilihan mudah bagi setiap orang. Ada keluarga yang ditinggalkan. Sepahit apapun pekerjaan itu harus dijalankan. Tetapi semua itu dilakukan demi kebutuhan.  Begitupun yang dialami Jirno (45), warga Desa Kutawuluh Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. 

Hasil panen kangkung di lahannya tak sesuai harapan. Ia menderita kerugian. Usaha pertanian di desa kian susah diandalkan. Jika ia bertahan, perekonomiannya tak akan berkembang.  Hingga ia memutuskan merantau ke Kalimantan. Ia mendapat tawaran untuk bekerja di perkebunan sawit. 

Ia tak menyiakan kesempatan. Jirno rela meninggalkan anak istri demi sebuah tujuan, mengubah nasib. 

"Saya merantau ingin mengubah nasib," katanya, Jumat (25/6/2021) 

Jirno bekerja sebagai operator alat berat. Mulanya, semuanya berjalan baik-baik saja. Ia nyaman dengan pekerjaannya. Tapi takdir memang rahasia. Suatu ketika, saat ia bersemangat bekerja, ban alat beratnya kempes. Ia menghubungi workshop (bengkel) kantor untuk mengganti ban. 

Ban berukuran jumbo diangkut ke bak sepeda motor roda tiga. Ia ikut menumpang di dalamnya. Ternyata ban yang akan diambil dari bengkel tidak cocok ketika dipasang.  Mereka lantas kembali ke bengkel untuk menukar ban. 

Siapa sangka petaka sedang mengintainya. Di sebuah jalan turunan, kendaraan pengangkut ban yang ditumpanginya tiba-tiba hilang kendali, hingga mengalami kecelakaan. Seluruh penumpang terpental, termasuk Jirno yang jatuh ke dalam parit. 

Semuanya seketika gelap. Jirno tak sadarkan diri. Saat ia jatuh terbaring ke dasar parit, ban alat berat terjun menimpa dadanya. Tulang punggungnya luka. 

"Saya merantau untuk mengubah nasib. Ternyata Allah mengubah nasib saya, menjadi seperti ini, " katanya

Sempat koma beberapa hari, di rumah sakit, Jirno akhirnya tersadar. Ia seperti diberi kehidupan kedua. Tetapi ia harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Punggungnya yang patah harus dipasang pen. Kakinya tak lagi bisa digerakkan. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved