Breaking News:

Berita Banjarnegara

Dilema Siswa Miskin Desa Terpencil Banjarnegara, Ke Negeri Terganjal Zonasi, Swasta Terkendala Biaya

Di SMA N 1 Sigaluh misalnya, menurut Waka Bidang Humas SMA N 1 Sigaluh Heni Purwono, terdapat 216 calon peserta didik yang akan diterima dari 250 pend

Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/Khoirul Muzakki
Pendaftaran online PPDB Jateng di SMAN 1 Sigaluh dengan protokol kesehatan, (23/6/2021) lalu.  

Penulis: Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG. COM, BANJARNEGARA - Hasil seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA di Kabupaten Banjarnegara diumumkan hari ini.

Di SMA N 1 Sigaluh misalnya, menurut Waka Bidang Humas SMA N 1 Sigaluh Heni Purwono, terdapat 216 calon peserta didik yang akan diterima dari 250 pendaftar. 

Pendaftaran sudah dimulai pada 21 Juni 2021 lalu dan ditutup pada 24 Juni. 

Tidak semua calon siswa mendaftar online secara mandiri di rumah ternyata. Kebanyakan pendaftar datang langsung ke sekolah.  Pihak sekolah pun telah menyiapkan operator khusus untuk membantu calon siswa untuk mendaftar secara online. 

Mereka memilih datang langsung ke sekolah dengan sejumlah alasan. Jaringan internet yang susah, terutama di pedesaan jadi kendala para orang tua atau calon siswa untuk mendaftar mandiri di rumah. 

Di luar itu, banyak yang ternyata masih bingung atau tidak paham dengan tahapan pendaftaran, termasuk untuk menentukan jalur zonasi maupun prestasi. 

"Terkendala internet dan tidak mudeng tahapannya, " katanya, Sabtu (26/6/2021) 

Banyaknya calon siswa dan pendampingnya yang datang ke sekolah membuat pihaknya berupaya agar tidak terjadi kerumunan. Ini untuk mencegah risiko penyebaran  Covid 19 yang masih merajalela. 

Kegiatan dilakukan menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Setiap hari, pihaknua membatasi maksimal 30 pendaftar yang datang ke sekolah sehingga bisa menjaga jarak. 

"Kita sudah ada daftar namanya, perhari maksimal 30," katanya 

Di sisi lain, PPDB dengan zonasi masih menyisakan problem di masyarakat. Kebijakan ini memberatkan bagi calon siswa yang berada jauh dari SMA Negeri. 

Di kecamatan Sigaluh misalnya, warga yang berada di daerah pelosok dan jauh dari SMA N kecil harapannya bisa diterima karena sistem zonasi. Padahal, warga di desa terpencil itu tidak mampu secara ekonomi. Bisa masuk ke sekolah negeri adalah impian orang tua dan calon siswa miskin karena bebas SPP dan uang gedung. 

"Banyak orang gak mampu di desa terpencil, mau masuk SMA Negeri terpental karena zonasi, mau masuk swasta tidak sanggup biayanya karena mahal. Perlu kebijakan fleksibel sehingga berkeadilan, " katanya.(*)

--

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved