Pendidikan
Lulus di Tengah Pandemi, Wisudawan UKSW Salatiga Diminta Mampu Adaptif terhadap Situasi Terkini
UKSW Salatiga mewisuda 714 mahasiswa secara luring. Mereka didorong untuk memiliki karakter creative minority yang konsisten
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Penulis: M Nafiul Haris
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Sebanyak 714 lulusan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga diwisuda secara luring terbatas yang hanya diikuti oleh ketua dan sekretaris Senat Universitas, pimpinan universitas dan mahasiswa peraih Indek Prestasi Terbaik (IPT) dari masing-masing program studi, Sabtu (26/7/2021).
Rektor UKSW Salatiga Neil Semuel Rupidara mengatakan makin memburuknya kondisi Indonesia termasuk Salatiga di beberapa minggu terakhir akibat pandemi Covid-19 penyelenggarakan wisuda periode I tahun 2021/2022 secara luring dengan peserta yang sangat terbatas.
Menurutnya, dari total jumlah winisuda hanya 3,5 persen wakil winisuda yang dihadirkan di Balairung Universitas berkapasitas 2500 orang ini.
Mayoritas winisuda mengikuti wisuda secara daring melalui aplikasi zoom meeting yang juga didukung live streaming di Youtube dan Instagram.
"Guna memastikan kegiatan aman dan tidak menjadi event penyebaran Covid-19, seluruh partisipan upacara wisuda akan dipantau kondisi kesehatannya hingga 5 hari pasca acara. Mengembangkan perilaku dan kegiatan yang adaptif dan kompatibel dengan karakteristik pandemi tanpa meninggalkan ritual esensial universitas menjadi hal mutlak yang diterapkan," terangnya dalam rilis kepada Tribunjateng.com, Minggu (27/6/2021)
Ia menambahkan, pandemi Covid-19 adalah suatu situasi lingkungan yang menuntut individu harus mengenalinya dengan baik dan merumuskan cara hidup di dalamnya.
Pandemi lanjutnya, bahkan telah mendistorsi banyak kebiasaan dan menuntut menjalani kehidupan dengan cara-cara adaptif.
"Anda telah dibentuk oleh UKSW menjadi kaum creative minority. Kaum ini memiliki kecakapan memahami situasi lingkungan yang dihadapinya dan tahu bagaimana meresponsnya. Sebagai kaum kreatif yang minoritas jumlahnya, para winisuda untuk tampil menjadi role model yang baik. Profil lulusan UKSW yang mencirikan creative minority harus siap menghadapi beragam tantangan masa depan," katanya
Karakter creative minority yang konsisten ditanamkan kepada mahasiswa UKSW nampak dalam sejumlah profil lulusan UKSW yang turut diwisuda hari ini.
Dua mahasiswa dari Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi (FTI) misalnya.
Keduanya yakni Judith Chrisolita Sangidong dan Fian Yulio Santoso mengembangkan model kecerdasan buatan untuk memprediksi apakah seseorang positif mengidap Covid-19 atau tidak sebagai tugas akhirnya.
Judith dan Fian yang juga meraih Indeks Prestasi Kumulatif sempurna 4.00 ini masing-masing memanfaatkan hasil CT-Scan dan X-Ray untuk mendeteksi Covid-19. Bahkan Fian mengungkapkan berdasarkan pengujian internal yang sudah dilakukan tingkat akurasi metode yang ditelitinya mencapai 90 persen.
Sementara itu jauh dari pelosok Maluku, Fredrik Hallatu salah satu lulusan dengan profil creative minority membaktikan dirinya pada masyarakat Desa Kabauhari, Kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah.
Dirinya bahkan rela berjalan hingga 12 jam hingga sampai di desa tersebut untuk memberikan pendampingan advokasi atas persoalan keterbelakangan kualitas pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup dan ekonomi.
Lulusan Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis ini juga menyalurkan bantuan yang telah digalangnya bersama sejumlah aktivis dari berbagai instansi untuk pembangunan gereja, pelayaan kesehatan, pengadaan buku dan peralatan belajar hingga logistik bagi masyarakat Seram Utara.
“Kualitas pendidikan, ekonomi dan kesehatan masyarakat disini bisa dikatakan di bawah rata-rata. Bahkan ada satu desa lainnya yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki hingga tiga hari lamanya. Berbagai hal yang saya lakukan ini tak lepas dari visi misi UKSW yang kini tertanam dalam diri saya, salah satunya menjadi minoritas yang berdaya cipta bagi pembangunan dan pembaruan masyarakat dan negara Indonesia,” tegasnya.
Fredrik yang menamatkan pendidikan Strata 1-nya pada Prodi Ilmu Teologi Fakultas Teologi UKSW ini saat dihubungi secara virtual juga menyebut bahwa di UKSW dirinya memperoleh peluang untuk menghasilkan gagasan dan solusi manajerial bagi kemajuan masyarakat.
Bersamaan dengan diwisudanya tiga creative minority di atas, berikut adalah peraih indeks prestasi tertinggi untuk berbagai jenjang.
Dari jenjang S1 Christian Alvin Susanto, S.Pd., lulusan dari Program Studi Pendidikan Matematika turut meraih IPK 4.00. Tiga lulusan S2 juga berhasil mendapatkan IPK 4.00, yaitu Ruth Suzanna, M.Pd lulusan dari Program Studi Magister Manajemen Pendidikan FKIP, Deddy Dharmawan Tumonggi, M.S.A dan Sonny Kristiantoro, M.S.A; keduanya lulusan Program Studi Magister Sosiologi Agama Fakultas Teologi. Adapun Dr. Hani Sirine lulusan dari Program Studi Doktor Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) juga meraih IPK 4.00. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/wisuda-uksw-juni-2021.jpg)