Kasus Covid-19 di Jateng Paling Banyak Klaster Keluarga, Ganjar: Butuh Eling lan Ngelingke

Saat ini ada 25 kabupaten dan kota di provinsi ini yang masuk dalam zona merah lantaran kasus penularan covid berisiko tinggi.

Istimewa
Ganjar Pranowo. 

Penulis: Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG- Penyebaran kasus Covid-19 di Jawa Tengah makin meluas.

Saat ini ada 25 kabupaten dan kota di provinsi ini yang masuk dalam zona merah lantaran kasus penularan covid berisiko tinggi.

Dalam sehari pada Senin (28/6/2021), ada penambahan kasus aktif 2.143 sehingga saat ini total ada 22.311 kasus aktif.

Sejumlah daerah memiliki kasus aktif tinggi antara lain Kudus (1.585), Kota Semarang (1.523), Kendal (1.500), Kebumen (1.061), dan Sragen (1.008).

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menyebut penularan covid yang terjadi paling banyak berasal dari klaster keluarga.

Selain mendorong agar ada gerakan 'di rumah saja'. Ganjar juga meminta warga untuk saling mengingatkan.

"Terimakasih kepada warga ada yang sudah bergerak eling lan ngelingke (ingat dan mengingatkan). Eling pakai protokol kesehatan dan berani meneriaki yang tidak pakai masker dan masih bergerombol," jelasnya.

Dengan gerakan eling lan ngelingke, diharapkan sesama warga negara bisa saling menjaga untuk bersama-sama menerapkan protokol kesehatan.

Selain itu, juga diharapkan muncul kesadaran bersama agar protokol kesehatan bisa berjalan optimal.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo menerangkan dalam kondisi seperti saat ini, yang dibutuhkan yakni masker, taat menggunakan masker. Namun, sikap tersebut kerap diabaikan sehingga lonjakan kasus covid tak terelakan.

Selain itu, untuk mengubah perilaku masyarakat menjadi taat protokol kesehatan harus ada regulasi yang kuat. Namun, penegakan hukum atau aturan tidaklah cukup untuk memastikan masyarakat taat pada protokol kesehatan.

"Kuncinya yakni pemberdayaan masyarakat harus dimunculkan dan ditegakan. Karena penegakan hukum tidak bisa mengawasi masuk ke rumah-rumah atau ke rumah tangga," kata Yulianto.

Penegakan protokol kesehatan di rumah, kata dia, sangat penting mengingat saat ini klaster yang paling banyak yakni rumah tangga.

Ia menyebut perilaku protokol kesehatan juga harus ditegakan di dalam rumah. Selama ini kecenderungannya di luar pakai masker, namun tidak saat di dalam rumah.

"Operasi yustisi atau Satpol PP tidak bisa masuk dan mengawasi ke rumah. Maka memberdayakan masyarakat penting. Mengawasi diri sendiri, keluarga, kita menggerakan podo ngelingke, bapake ngelingke anake, dan sebagainya. Pemberdayaan itu yang harus dibangun," ujarnya.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved