Breaking News:

KPAI: Penanganan Covid-19 Belum Berpihak pada Anak

proporsi kasus positif covid-19 pada anak usia 0-18 tahun sebesar 12,5 persen, dengan angka kematian covid-19 pada anak tertinggi di dunia.

Editor: Vito
ISTIMEWA
ilustrasi - Wali kota Semarang Hendrar Prihadi mengunjungi pasien COVID-19 di Rumah Dinas Wali kota di Manyaran 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Peningkatan kasus covid-19 pada anak menunjukkan ada situasi serius dalam upaya pengendalian pandemi di Indonesia. Kasus infeksi pada anak mencerminkan penanganan covid-19 di Indonesia belum berpihak kepada anak.

Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proporsi kasus positif covid-19 pada anak usia 0-18 tahun sebesar 12,5 persen. Artinya, satu dari delapan kasus positif covid-19 adalah anak-anak.

Sedangkan, case fatality rate (angka kematian) covid-19 pada anak di Indonesia merupakan tertinggi di dunia, sebesar 3-5 persen.

Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengatakan, proporsi infeksi covid-19 pada anak mencapai 12,5 persen tercatat sangat tinggi, mengingat data tren secara global menunjukkan kasus infeksi pada anak selalu menempati urutan terendah, yakni hanya sekitar 3 persen.

Menurut dia, situasi kesehatan anak yang kompleks seperti malnutrisi dan stunting, akan memperburuk kondisi anak yang terinfeksi covid-19, apalagi rumah-rumah sakit di Indonesia belum dilengkapi ruang ICU khusus anak yang terinfeksi covid-19.

"Hal inilah yang menjadi penyebab tingkat kematian anak tinggi, karena anak-anak yang megalami masa kritis kerap tidak tertolong akibat ketiadaan ruang ICU,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Minggu (27/6).

"Pemerintah perlu melakukan langkah-langkah konkrit dan terencana untuk menyelamatkan anak-anak yang terinfeksi covid-19, sekaligus mencegah anak-anak tertular covid-19," tambahnya.

KPAI merekomendasikan beberapa hal. Pertama, penguatan 3T (testing, tracing, treatment). Ketika skema 3T pada orang dewasa saja masih belum memadai, kasus covid-19 pada anak menjadi lambat terdeteksi.

Ini berpotensi membuat kasus kematian pada anak menjadi tinggi, apalagi Indonesia tidak memiliki ruang ICU khusus anak yang terinfeksi covid-19.

Kedua, lengkapi imunisasi dasar untuk balita dan anak-anak. Program imunisasi pada anak menurun selama pandemi, sehingga bisa memicu wabah lain.

Ketiga, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus segera memprioritaskan pembangunan ruang ICU khusus anak yang terinfeksi covid-19 sebagai upaya menekan angka kematian anak.

Keempat, pemerintah harus menunda pendidikan tatap muka PTM pada tahun ajaran baru Juli 2021 yang kurang dari sebulan lagi, mengingat kasus sangat tinggi dan positivity rate di sejumlah daerah di atas 5 persen.

Kelima, orangtua dan orang dewasa di rumah harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat saat keluar rumah dan kembali ke rumah.

Ketika aktivitas anak masih banyak di rumah, orang dewasa di sekitar anaklah yang diduga kuat menulari anak(Kontan/Ahmad Febrian)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved