Breaking News:

Gap Pendanaan Masih Lebar Picu Maraknya Pinjol Ilegal

gap atau kebutuhan pendanaan yang belum terpenuhi itu di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 1.000 triliun.

Editor: Vito
shutterstock.com
ilustrasi fintech 

Tongam mengungkapkan, lonjakan kemunculan fintech ilegal yang berhasil diblokir ini terjadi saat pandemi covid-19 merebak di Indonesia.

Sebanyak 1.493 akun telah diblokir selama 2019, dan 1.026 akun diblokir pada 2020. "Kami melihat kebutuhan masyarakat akan peminjaman dana ini meningkat terlebih saat pandemi," ucapnya.

Kendati demikian, yang menjadi tantangan dalam memblokir akun fintech ilegal itu, menurut Tongam, yakni berdasarkan data yang diberikannya, sebagian besar servernya berada di luar Indonesia. Bahkan, mayoritas server dari akun fintech Ilegal itu tidak diketahui keberadaannya.

"Jadi hanya ada 22 persen server fintech peer-to-peer lending yang ada di Indonesia, bahkan 44 persen di sini tidak diketahui keberadaannya ada di mana," tuturnya.

Tongam menyebut, sebanyak 8 persen server itu berada di Singapura, 6 persen di China, 2 persen di Malaysia, 1 persen di Hongkong, dan sebagian di US, serta terbesar yakni 44 persen di lokasi yang tidak diketahui.

Hal tersebut yang menurut OJK bersama Kepolisian, kata Tongam, merasa kesulitan dalam melakukan pemblokiran akun fintech ilegal.

"Kami meminta kepada masyarakat untuk melakukan pengecekan keberizinan dari fintech tersebut (yang akan diakses-Red), melalui website resmi dari OJK, dan pinjam dana pada fintech yang terdaftar di OJK," tukas Tongam.

Masyarakat dapat mengakses website https://www.ojk.go.id/id/Default.aspx guna mengetahui fintech yang terdaftar dan berizin di OJK.(Tribunnews/Vincentius Jyestha Candraditya)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved