Breaking News:

Kemenkominfo Minta Operator Seluler Segera Hadirkan Teknologi 5G

pandemi covid-19 telah mendorong perlunya industri mengadopsi teknologi itu.

Editor: Vito
SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI Jaringan 5G. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) meminta industri operator seluler mengadopsi teknologi 5G dari teknologi 4G.

Direktur Jenderal Penyelenggaan Pos dan Informatika Kemenkominfo, Ahmad M Ramli mengatakan, pandemi covid-19 telah mendorong perlunya industri mengadopsi teknologi itu.

"Kalau berangkat dari teknologi 4G ke 5G, maka sebetulnya kami mendorong yang pertama bisa memanfaatkan secara efisien dan masif itu adalah industri. Kalau industri bisa memanfaatkan ini lebih dulu, ini akan sangat bagus," katanya, dalam siaran pers, Rabu (30/6).

Ramli mengakui, tidak mudah mengadopsi teknologi 5G. Persiapan jaringan telekomunikasi yang dapat mentransfer data lebih besar dan lebih cepat ini memang menjadi tantangan bagi perusahaan operator layanan telekomunikasi.

Ada beberapa isu-isu yang perlu diselesaikan, seperti isu machine to machine, human to machine, artificial intelligent, dan penggunaan komunikasi yang bisa menggerakkan robotik.

Kendati demikian, ia berujar, pemerintah melalui regulasi yang ada saat ini maupun UU Cipta Kerja telah menerapkan prinsip teknologi netral.

"Oleh karena itu semua spektrum yang telah dilisensikan pada operator boleh gunakan dengan teknologi apapun. Jadi tidak perlu lagi meminta izin teknologi baru, frekuensi baru ketika memasukkan 5G sebagai bagian dengan memanfaatkan spektrum yang ada," tuturnya.

Melalui UU Cipta Kerja, Ramli menyatakan, pemerintah mendorong network sharing, yakni satu operator dapat menggunakan infrastruktur operator lain. Dua operator ini bahkan bisa saling bekerjasama untuk penggunaan frekuensi.

Di sisi lain, pemerintah tidak akan switch off layanan 4G karena dinilai dapat berjalan bersamaan. Kominfo mencatat, sebanyak 96 persen pengguna ponsel pintar (smartphone) di Nusantara menggunakan jaringan 4G.

"Karena pengguna 4G dengan device-device sudah familiar dan sudah compatible. Dengan 5G itu sangat masif, kemudian perlu waktu yang cukup panjang untuk bergerak seluruhnya ke 5G," tuturnya.

Riset perusahaan analisis jaringan telekomunikasi, OpenSignal juga menyebut, jaringan 4G masih dibutuhkan di Indonesia. Namun, jaringan di bawahnya, yakni jaringan 2G dan 3G perlu dihapus, sehingga frekuensi bisa dipakai untuk perluasan 4G maupun pengembangan 5G.

"Kalau melihat kebutuhan, saya melihat masyarakat masih akan bergerak ke 4G. Tapi kami akan evaluasi 5 tahun (mendatang) setelah 5G hadir," tandas Ramli. (Kompas.com/Fika Nurul Ulya)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved