Breaking News:

Universitas Nasional Karangturi

Food Combining dan Trend Diet Kekinian

DI MASA pamdemi COVID-19 ini, pola hidup sehat digadang-gadang paling efektif untuk meningkatkan imunitas seseorang.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Novia Anggraeni SPi MSc, Dosen S1 Teknologi Pangan Unkartur 

Menurut prinsip food combining, jika makanan dari jenis klasifikasi berbeda dikonsumsi bersamaan, akan saling menetralisir sehingga berdampak buruk pada sistem pencernaan. Contohnya , menggabungkan makanan berkategori asam dan basa. Pada praktiknya, food combining mengatur kombinasi makanan dari tiga jenis klasifikasi berdasarkan tingkat keasamannya tersebut, agar tubuh mendapat manfaat dan nutrisi yang optimal dari satu kali makan.

Lalu , bagaimana cara meneapkan food combining? Padahal pembagian sub kelas dari food combining sendiri pun banyak yang masih belum dipahami. Yup, jadi food combining ini sendiri memiliki dua pemahaman yang paling penting, yaitu :

1. Mengombinasikan jenis makanan yang mudah dicerna dan makanan yang tidak mudah dicerna, mengakibatkan saluran pencernaan “macet”, sehingga dapat berujung pada gangguan kesehatan.

2. Beda jenis makanan, beda pula enzim yang diperlukan untuk mencerna makanan tersebut. Masing-masing enzim bekerja di tingkat keasaman (pH) berbeda, dan di dalam usus yang berbeda pula.

Dari kedua pemahaman tersebut, food combining menjunjung aturan-aturan makan berikut ini:

* Buah harus dimakan terlebih dahulu. Buah merupakan makanan yang cenderung lebih mudah dicerna, terutama jika tidak tercampur oleh makanan lain. Kalau sampai tercampur, justru akan menjadi sulit untuk dicerna.  Hal tersebut yang mendasari pemahaman bahwa buah harus dimakan sebelum makanan utama agar tidak tercampur dengan makanan lain. Dengan alasan yang sama, food combining tidak menganjurkan makan buah dan sayur bersamaan karena mempunyai struktur biokimia yang berbeda. 

* Karbohidrat dan protein tidak boleh dimakan bersamaan. Mungkin prinsip yang satu ini akan terdengar janggal, terutama di Indonesia yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Apalagi, biasanya nasi ditemani dengan lauk sebagai sumber protein.  Namun, food combining tidak menganjurkan selalu makan dengan pola demikian. Mengingat karbohidrat dan protein memiliki perbedaan dalam tingkat kemudahan untuk dicerna tubuh.

* Jangan konsumsi dua jenis protein dalam sekali makan ! Kenzie Burke, seorang influencer asal Amerika Serikat, yang telah menerapkan food combining, menyampaikan apa yang telah ia pelajari, bahwa protein hewani membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam sampai sempurna dicerna oleh tubuh.  Ketika kita mengonsumsi dua jenis protein sekaligus, misalnya telur dan bacon, tubuh akan membutuhkan waktu dua kali lebih banyak untuk menghancurkan makanan tersebut.  Sisa makanan yang belum dicerna dengan baik pun akan membusuk dan dapat berdampak pada gangguan pencernaan.

* Memperbanyak konsumsi sayuran hijau. Anjuran makanan dalam food combining yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi. Vitamin dan mineral yang dikandung sayur-sayuran sangat kaya, sebut saja magnesium, zat besi, serat, serta vitamin B yang baik untuk kesehatan. Menurut food combining, sayuran cocok dikombinasikan dengan makanan jenis apa saja.

* Membuat jeda konsumsi makanan . Untuk menghindari menumpuknya makanan karena “antre” menunggu dicerna oleh tubuh, food combining menganjurkan untuk memperhatikan jeda makan antara makan yang satu dengan makan setelahnya. Makanan utama lebih baik dikonsumsi 2 jam setelah buah.Makanan yang mengandung protein lebih baik dikonsumsi 3 jam setelah karbohidrat.Makanan yang mengandung karbohidrat lebih baik dikonsumsi 4 jam setelah protein. (*)

Informasi lebih lanjut : Jl. Raden Patah No. 182-192, Semarang. Telp. 024-3545882/08112710322 atau IG @universitasnasionalkarangturi

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved