Menkeu Pastikan PPKM Darurat Tekan Ekonomi

koreksi ekonomi akan sangat dirasakan pada kuartal III/2021 seiring dengan berlangsungnya PPKM Darurat pada 3-20 Juli 2021.

Editor: Vito
ANTARA FOTO/Wahyu Putro
Menteri Keuangan Sri Mulyani 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Tren pemburukan pandemi covid-19 dalam beberapa waktu terakhir pada periode akhir kuartal II/2021 diperkirakan telah menggerus ekonomi, dengan teerus terjadinya lonjakan kasus baru.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2021 berkisar antara 7,1-7,5 persen year on year (yoy).

Angka tersebut telah dikoreksi ke bawah dari proyeksi sebelumnya yang berada di rentang 7,1-8,3 persen yoy.

Menurut dia, realisasi pertumbuhan ekonomi pada April-Juni 2021 tidak akan mampu tembus 8 persen yoy, meskipun lonjakan kasus covid-19 pada kuartal II/2021 berlangsung tidak lebih dari satu bulan.

Hanya saja, dia menambahkan, ekonomi di kuartal II/2021 masih berada di zona positif dan di atas rata-rata proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 sebesar 4,5-5,3 persen yoy.

Sebab, basis realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020 tercatat sangat rendah, yakni minus 5,32 persen yoy.

“Kita melihatnya begini, kalau proyeksi ekonomi untuk kuartal II bulan Juni sudah hampir selesai, kenaikan (kasus covid-Red) minggu kedua-ketiga, PPKM mulai awal Juli, maka kuartal II masih relatif tidak terpengaruh banyak. Ekonomi Juni ada sedikit pelemahan, tapi tidak akan memengaruhi banyak,” ujarnya, dalam konferensi pers, Jumat (2/7).

Menkeu menyatakan, koreksi ekonomi akan sangat dirasakan pada kuartal III/2021 seiring dengan berlangsungnya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3-20 Juli 2021.

“PPKM Darurat tergantung dari berapa lamanya, pasti nanti akan mengalami penurunan (proyeksi pertumbuhan ekonomi-Red) tergantung dari lamanya (PPKM-Red),” jelasnya.

Sri Mulyani mengungkapkan, ekonomi di kuartal III/2021 akan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yakni 6,5 persen yoy. Hal itu mengingat angka tersebut dipatok sebelum pemerintah menetapkan kebijakan PPKM Darurat.

“Kalau panjang, bisa satu bulan, bisa signifikan (penurunan ekonomi-Red), terutama dalam level konsumsi, karena kalau konsumsi turun, PPKM memengaruhi outlook dari growth kuartal III/2021, jadi benar-benar tergantung perkembangan dari PPKM Darurat,” tandasnya.

Menkeu menyampaikan, komponen produk domestik bruto (PDB) yang akan sangat terpengaruh akibat PPKM Darurat yakni konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbanyak pertumbuhan ekonomi. Hal itu seiring dengan pengetatan aktivitas masyarakat.

Namun untuk investasi, ia meyakini tidak akan banyak tergerus. Sebab, dalam kebijakan PPKM Darurat, kegiatan konstruksi yang merupakan 80 persen representasi investasi masih dapat beroperasional seperti biasa, tapi tetap dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Maka untuk mengendalikan pandemi, masyarakat bersama-sama dalam peran apapun harus menyukseskan PPKM Darurat, untuk mengurangi lonjakan covid-19 ini, sehingga kegiatan ekonomi sosial bisa berjalan normal,” paparnya.

Sri Mulyani berujar, agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh terlalu dalam dari proyeksi awal, pemerintah akan gencar mendorong bantuan sosial kepada masyarakat miskin, baik melalui skema tunai hingga subsidi listrik.

Sejalan dengan Menkeu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede juga meyakini PPKM Darurat secara langsung akan berpotensi membatasi pemulihan ekonomi pada kuartal III/2021.

Ia menilai, PPKM Darurat berpotensi diperpanjang bila kasus tidak kunjung mereda di pertengahan Juli. Namun demikian, bila kasus mulai mereda, diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mampu kembali pulih secara gradual. (Kontan.co.id/Yusuf Imam Santoso)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved