Breaking News:

Bisnis Kedai Kopi Terdampak PPKM Darurat: Bisa Bertahan Saja Sudah Bagus

Aturan PPKM Darurat menyebabkan para pelaku usaha harus membatasi aktivitas usaha coffe shop, yakni hanya melayani take away.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Vito
TRIBUN JATENG/IWAN ARIFIANTO
Pemilik kedai kopi sekaligus pendamping kopi Jateng, Abdul Walid saat memproses kopi di kedai miliknya di Kota Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat pada 3-20 Juli 2021 di Kota Semarang semakin menekan aktivitas bisnis para pelaku usaha di bidang kopi, baik coffe shop maupun kedai.

Pasalnya, dalam aturan tersebut, para pelaku usaha harus membatasi aktivitas usaha mereka, yakni hanya melayani take away, sekaligus jam operasional yang dipangkas menjadi maksimal pukul 20.00.

Pemilik kedai kopi di wilayah Gunungpati, Semarang, Pijar menyatakan, kebijakan PPKM Darurat kian menyulitkannya untuk menggaet konsumen baru. Kedai kopinya yang baru berjalan satu tahun terakhir kini hanya berupaya bertahan.

"Pandemi covid-19 tentu sangat berdampak. Di kedai saya yang beli cuma teman satu circle (sepergaulan-Red), mau gencar promosi masih kondisi pandemi, apalagi ada aturan PPKM Darurat, jadi rasanya percuma," ucapnya, Selasa (6/7).

Menurut dia, bisa bertahan membuka usaha di tengah pandemi covid-19 saja sudah cukup bagus, mengingat dalam kondisi seperti ini banyak pemilik usaha memilih menutup usahanya lantaran sepi pembeli.

Sebelumnya, Pijar menuturkan, lokasi kedai kopi miliknya berada di kawasan kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes), tetapi terpaksa pindah lantaran akses masuk tempat usahanya diportal warga. Kedai kopi miliknya pun kini pindah di pinggir jalan raya.

Di lokasi saat ini, ia harus mematuhi aturan agar tak digusur petugas, yakni harus tutup pukul 20.00. "Jadi hasil usaha kedai ini untuk menutup operasional bulanan saja belum cukup. Tetapi saya masih tetap buka untuk kebutuhan makan sehari-hari," tukasnya.

Pemilik kedai kopi sekaligus pendamping 'Kopi Jateng', Abdul Walid mengatakan, ratusan pelaku usaha kopi di Kota Semarang sangat merasakan dampak dari PPKM Darurat. Ia menyebut, jumlah coffe shop di Kota Semarang sekitar 100 unit, sedangkan jumlah kedai sekitar 200 unit.

Perilaku konsumen

"Pemberlakuan jam operasional ini tentu sangat merugikan. Mau buka lebih awal pun akan percuma, karena perilaku konsumen yang cenderung ngopi di malam hari," katanya, saat dihubungi Tribun Jateng, Selasa (6/7).

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved