Varian Delta Dominasi Kasus Covid-19 di Pulau Jawa

Penularan varian Delta, katanya, sangat cepat yaitu 5 sampai 8 kali lebih menular dibanding varian asli dengan penularan hanya 2,5 sampai 3 kali.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: Daniel Ari Purnomo
skrinsut virtual
Ketua Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Gunadi, menyampaikan paparan dalam Dialog Produktif KPCPEN secara virtual, Rabu (7/7/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kebijakan PPKM Darurat dinilai krusial di tengah melonjaknya angka kenaikan kasus Covid-19 dan munculnya varian virus Covid-19 baru (Alpha, Beta, Delta dan Kappa) yang diyakini lebih menular dan menimbulkan gejala berat pada pengidapnya.

Di masa PPKM Darurat, pemerintah memperkuat 3T yaitu testing, tracing, treatment dengan target positivity rate kurang dari 5% serta tracing mengincar 15 pelacakan kontak erat.

Selain itu, pemerintah juga melakukan percepatan vaksinasi.

Menurut Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, di masa pandemi Covid-19 diperlukan langkah-langkah dalam memutus rantai transmisi penyakit, salah satunya dengan pelacakan kontak (contact tracing).

"Bagi kasus terkonfirmasi positif harus menjalani karantina/isolasi mandiri guna memutus rantai penyebaran," ujarnya pada Dialog Produktif Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) yang diikuti Tribun Jateng dari Kota Semarang, Rabu (7/7/2021).

Ia mengungkapkan, selama Juni 2021 terjadi peningkatan kasus Covid-19 yang luar biasa, jauh melebihi Desember 2020 sampai Januari 2021.

"Angka positif harian saat ini mencapai 28 ribu-30 ribu kasus, yang sangat dimungkinkan disebabkan oleh varian Delta yang mendominasi pulau Jawa," ungkapnya.

Penularan varian Delta, katanya, sangat cepat yaitu 5 sampai 8 kali lebih menular dibanding varian asli dengan penularan hanya 2,5 sampai 3 kali.

Ketua Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Gunadi mengatakan, kemunculan Variant of Interest dan Variant of Concern dipengaruhi perilaku manusia sebagai inangnya.

"Pelanggaran prokes, tidak divaksinasi, interaksi sosial yang sangat masif merupakan sarana kemunculan varian baru," ujarnya.

Ia melanjutkan, berdasarkan genome sequencing, varian Delta ini menguasai 17,7% varian yang bertransmisi di Indonesia. Sedangkan varian Alpha dan Beta hanya di bawah 2%. Jadi jelas eskalasi kasus Covid-19 di Indonesia dipicu oleh varian Delta.

Gunadi menyebutkan, vaksin Covid-19 sejauh ini dapat melawan varian Delta. Riset terbaru yang dilakukan di Inggris menunjukkan efikasi vaksin dapat mencegah timbulnya gejala, dan mencegah rawat inap di RS hingga lebih 90%.

Karenanya, meski di tengah PPKM Darurat, Kemenkes mengimbau masyarakat tetap mendatangi sentra vaksinasi bagi yang sudah mendapatkan undangan atau melakukan pendaftaran online.

"Selama PPKM Darurat, fasyankes atau sentra vaksinasi tetap buka dan layani vaksinasi. Kunci utama saat datangi pos vaksinasi adalah prokes yang ketat, hindari kerumunan. usai vaksinasi sebaiknya masyarakat langsung pulang ke rumah," pesan Nadia.

Sejauh ini Indonesia telah berhasil memvaksinasi 32,3 juta dosis pertama dan 14 juta dosis kedua, dari target sasaran vaksinasi nasional 181,5 juta orang untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). (Nal)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved