Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Menilik Industri Genteng Sokka yang Melegenda di Kebumen

Beberapa perempuan tampak sibuk menyiapkan bahan genteng di tobong milik keluarga Nur Ali, Kebumen.

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNBANYUMAS. COM, KEBUMEN -  Berikut ini video menilik industri genteng Sokka yang melegenda di Kebumen.

Beberapa perempuan tampak sibuk menyiapkan bahan genteng di tobong milik keluarga Nur Ali, warga Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kebumen.

Tanah yang telah halus dan dibentuk kotak itu siap dicetak merupa genteng. Genteng setengah jadi itu  lantas dikeringkan di bawah terik matahari, hingga dibakar dengan tungku besar berbahan kayu bakar. 

Mereka dikejar waktu untuk merampungkan pembuatan ribuan genteng Morando atas pesanan seorang.  Nur Ali mengakui saat ini pesanan mulai berdatangan setelah sempat sepi. 

Seperti halnya perajin lain di desanya, ia melabeli produknya dengan nama Sokka. Hanya ia menambahi nama itu dengan merek sendiri, HMS. 

Cikal bakal kelahiran genteng Sokka Kebumen yang melegenda berasal dari daerah ini. Meski dalam perjalanannya, ia mengakui banyak pengrajin dari berbagai daerah yang ikut menggunakan nama Sokka untuk melabeli produk mereka. 

"Sokka itu nama stasiun di sini, " katanya, Rabu (7/7/2021) 

Ali merupakan generasi kedua yang mewarisi usaha kerajinan genteng dari ayahnya, Muslim. Dari beberapa orang yang mengawali usaha itu, muncul banyak perajin baru hingga kawasan itu berubah menjadi sentra genteng.  Hingga Genteng Sokka Kebumen dikenal masyarakat hingga sekarang. 

Produk genteng Sokka Kebumen dikenal  karena kualitasnya. Ali mengatakan, keunggulan genteng Kebumen dipengaruhi oleh kualitas tanah liat untuk bahan baku produk tersebut.  Di samping itu, tangan-tangan terampil para perajinnya turut menentukan.  Wajar, genteng Sokka diminati masyarakat berbagai daerah hingga mancanegara. 

"Saya pernah kirim genteng ke Filipina, " katanya

Hanya kini para pengrajin sepertinya sedang menghadapi sejumlah kendala. Bahan baku tanah liat kian langka karena banyak lahan pertanian beralih fungsi jadi perumahan. 

Akibatnya, harga tanah liat kian mahal. Bukan hanya kendala di bahan baku, ketersediaan kayu bakar untuk membakar genteng juga kian langka. Ini memicu kenaikan harga kayu dari waktu ke waktu. 

Pihaknya sudah pernah menjajal menggunakan bahan bakar batu bara, namun hasilnya kurang memuaskan hingga memengaruhi kualitas. Pengrajin pun akhirnya kembali menggunakan kayu bakar karena hasilnya lebih maksimal. 

Masalah lainnya, para pengusaha genteng juga semakin kesulitan mencari tenaga kerja.  Bekerja di tobong kurang minati, khususnya  generasi muda. Buktinya, mereka yang bekerja di pabrik genteng rata-rata berusia tua, bahkan lansia. 

Meski mempertahankan cara tradisional dalam memproduksi genteng, ia tetap menginginkan ada alih teknologi pada sebagian tahapan produksi. Ini sekaligus bisa mengatasi problem kekurangan tenaga kerja di industri genteng

"Harapannya harga stabil, bahan baku mudah seperti dulu lagi, dan ada support teknologi, " katanya. (*)

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved