Breaking News:

Bisnis Ritel Makin Tergerus Imbas PPKM Darurat: Ini Berat bagi Kami

sebelum PPKM Darurat, ritel non-pangan sudah tergerus hampir 90 persen, dan ritel pangan tergerus sekitar 50 persen

Editor: Vito
TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Satu tenant di Mal Ciputra Semarang terlihat sepi pengunjung, baru-baru ini. PPKM Darurat semakin menekan bisnis ritel, di mana pada masa sebelumnya pun juga sudah tergerus. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N Mandey mengatakan, penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat menekan kinerja ritel pada bulan ini.

"Padahal posisi sebelum PPKM Darurat, di ritel non-pangan sudah tergerus hampir 90 persen, dan ritel pangan tergerus sekitar 50 persen,” ujarnya, kepada Kontan.co.id, Jumat (9/7).

Menurut dia, pada awal-awal pelaksanaan PPKM Darurat itu sempat ada gejolak pembelian masyarakat untuk membeli persediaan kebutuhan pokok. Namun, peningkatan itu hanya berlangsung selama 2 hari.

Untuk menyiasati penurunan penjualan selama hampir seminggu PPKM Darurat dilaksanakan, toko ritel modern juga menggunakan platform online untuk memasarkan produk. Namun, Roy mengaku, langkah itu tidak bisa menggantikan pembelian secara langsung.

“Memang kini hanya mengandalkan pesanan online, tetapi tidak bisa menggantikan pembelian secara langsung (offline). Ya, paling sekitar 8 persen saja mencakupnya (kuantitas-Red),” jelasnya.

Roy memperkirakan penjualan ritel pada Juni 2021 akan turun sekitar 4-5 persen dari posisi bulan sebelumnya. Pasalnya, peningkatan pandemi sudah terlihat pada pertengahan bulan tersebut.

Lalu pada Juli 2021, kinerja penjualan ritel diperkirakan akan semakin turun. Bahkan kekhawatirannya hampir sama di titik tahun lalu, yaitu sekitar minus 20,6 persen dari bulan sebelumnya.

Ia pun meminta bantuan dari pemerintah berupa subsidi gaji bagi pekerja di toko sekitar 50 persen yang nantinya disalurkan lewat BPJS Ketenagakerjaan.

Selain itu, Roy juga meminta subsidi listrik. “Masih tinggi itu tarifnya yang 1400 kWh. Kami minta 50 persen-nya,” ucapnya.

Roy juga meminta keleluasaan ritel modern untuk beroperasi pada saat PPKM hingga pukul 20.00, tidak seperti di peraturan yang pembatasan jam operasional hingga pukul 17.00.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved