Breaking News:

Corona Semarang

Update Covid-19 Kota Semarang: Kasus Positif Masih Tinggi, Perlu Tambahan ICU Isolasi

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, keterisian tempat isolasi baik di karantina terpusat maupun rumah sakit rata-rata saat ini 74 persen

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: muslimah
humas pemkot semarang
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi meninjau tempat isolasi di Balai Kelurahan Meteseh beberapa waktu lalu 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus Covid-19 di Kota Semarang masih cenderung tinggi.

Data pada laman siagacorona.semarangkota.go.id hingga Jumat  (9/7/2021) pukul 14.30, Covid-19 aktif mencapai 2.173 kasus.

Sebanyak 1.600 kasus merupakan warga Semarang dan sisanya 573 kasus yaitu warga luar kota.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, keterisian tempat isolasi baik di karantina terpusat maupun rumah sakit rata-rata saat ini 74 persen. Menurutnya, persentase itu sudah tergolong aman.

"Tempat isolasi sudah sangat aman. Hari ini jadi PR kami adalah perawatan ICU. Kemarin kami sudah menambah bed kamar untuk perawatan di rumah sakit. Yang kategori berat, kamarnya akan kami tambah," terang Hendi, sapaannya, Jumat (9/7/2021).

Dikatakan Hendi, penambahan ICU isolasi memang menjadi perhatian pemerintah.

Pasalnya, keterisian ruang isolasi di rumah sakit memang masih tinggi meski antrean pasien saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa hari yang lalu.

Penambahan ICU isolasi sendiri membutuhkan waktu cukup lama karena perlu pengadaan sejumlah peralatan.

Pihaknya telah memberikan persetujuan penambahan ICU di RSUD Wongsonegoro. Setidaknya, ada penambahan 10 kamar ICU untuk penanganan pasien dengan kategori gejala berat.

"Kemarin saya menyetujui rumah sakit milik Pemkot akan dibangun 10 ICU lagi, termasuk penambahan alat-alat lengkap," papar Hendi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, Kota Semarang telah menambah sekitar 900 tempat tidur (TT) isolasi selama kurun waktu Mei - Juli. Termasuk di dalamnya penambagan ICU.

Pekan lalu, Kementerian Kesehatan juga memberi arahan untuk menambah TT.  Pihaknya pun sudah menginformasikan hal itu kepada seluruh rumah sakit.

"Hal itu langsung dilakukan dengan mengubah ruang non Covid-19 jadi Covid-19. Kalau ICU tidak semudah itu. Penambahan ICU butuh effort, tapi kami tetap upayakan," ujarnya.

Ditambahkan Hakam, warga yang hendak ke  karantina terpusat akan diarahkan melalui antrean di puskesmas. Warga yang membutuhkan IGD memang masih cukup banyak. Bahkan, ambulan hebat juga masih cukup kesusahan mencari rumah sakit rujukan.

"Misal tidak bergejala, saturasi masih 95 ke atas. Isolasi di rumah atau di tingkat kelurahan. Harapannya, karantina terpusat bisa untuk pasien yang saturasinya turun. Kami atur supaya RS tidak kuwalahan," jelasnya. (eyf)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved