Berita Semarang
Keluhan Warga Kota Semarang, Merasa Terbebani Jika Harus Menjalani Swab Antigen Mandiri
Bahkan ada yang mengaku dalam tiga pekan terakhir ia mengeluarkan lebih dari Rp 600 ribu untuk mengikuti swab antigen
Penulis: budi susanto | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sejumlah klinik kesehatan di Kota Semarang masih dipenuhi masyarakat.
Mereka berbondong-bondong datang untuk menjalani swab antigen.
Beberapa mengatakan sudah dua kali melakukan deteksi mandiri Covid-19.
Hal itu dilakukan lantaran kekhawatiran masyarakat terpapar virus di tengah melonjaknya penularan Covid-19.
Ratusan ribu pun harus keluar dari kantong warga yang ingin melakukan swab antigen.
Bahkan ada yang mengaku dalam tiga pekan terakhir ia mengeluarkan lebih dari Rp 600 ribu untuk mengikuti swab antigen.
“Serba salah tidak swab takut terpapar, kalau swab mengeluarkan biaya tambahan. Padahal kondisi ekonomi sedang sulit,” ujar Jodi warga Candisari Kota Semarang, saat ditemui Tribunjateng.com di salah satu klinik yang ada di wilayah Jatingaleh, Candisari Kota Semarang, Senin (12/7/2021).
Dilanjutkannya, harusnya pemerintah menyiapkan program deteksi Covid-19 lewat swab antigen masal gratis.
“Kalau harus mengeluarkan biaya tambahan pasti membebani, apalagi bagi masyarakat kurang mampu. Dari pada untuk swab lebih baik untuk belanja bahan makanan,” jelasnya.
Jodi mengatakan, hingga kini ia tak tahu harga awal alat swab antigen yang digunakan untuk deteksi Covid-19.
“Setahu saya ya bayar Rp 100 ribu paling murah di klinik, kalau paling mahal saya pernah bayar Rp 200 ribuan,” paparnya.
Menyoal banyaknya warga yang melakukan swab tes antigen mandiri, Tribunjateng.com, mencoba berbincang dengan Johan, yang bekerja di perusahaan penyalur alat kesehatan termasuk swab antigen di pasaran alat kesehatan Jateng.
Ia menyebutkan, ada puluhan merek alat swab antigen yang kini beredar di pasaran dengan harga bervariatif.
“Misalnya merek Lungene yang harganya awal Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu untuk satu box isi 25. Tapi kini harganya ngawur, bisa di angka Rp 1 juta,” ucapnya.
Ia menyebutkan, misal klinik Kesehatan mematok tarif Rp 100 ribu lebih untuk jasa deteksi Covid-19 berserta keterangan positif atau negatif, klinik tersebut bisa memperoleh untung lumayan banyak.
“Tapi lumrah karena untuk membayar pekerja. Kalaupun digratiskan pemerintah saya juga setuju, untuk meringankan beban masyarakat,” tambahnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/masyarakat-memadati-klinik-kesehatan-ya021.jpg)