Krisis Nakes, Indonesia Butuh 3 Ribu Dokter dan 20 Ribu Perawat
pemerintah butuh tambahan nakes untuk penanganan pasien covid-19 ang jumlahnya melonjak dalam beberapa hari terkahir ini.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pandemi covid-19 di Indonesia semakin parah, dengan jumlah kasus infeksi yang terus melonjak dalam beberapa waktu terakhir, dan mencatatkan rekor pada Senin (12/7), menembus angka 40.000 infeksi.
Hal itupun berdampak pada terjadinya krisis tenaga kesehatan (nakes) sebagai garda terdepan penanganan covid-19, bersamaan dengan peningkatan jumlah pasien, dan terus menurunnya jumlah nakes akibat turut terinfeksi sehingga harus menjalani isolasi, dan sebagian meninggal dunia.
Data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat, penambahan kasus covid-19 pada Senin (12/7) mencapai 40.427 infeksi, sekaligus menjadi rekor tertinggi selama pandemi. Akibat penambahan itu, jumlah total infeksi virus corona menjadi 2,56 juta kasus.
Sementara kasus kematian akibat covid-19 bertambah sebanyak 891 kasus, sehingga jumlah total sepanjang pandemi tercatat menjadi sebanyak 67.355 orang.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah butuh tambahan nakes untuk penanganan pasien covid-19 sekarang ini. Kurang lebih dibutuhkan 3 ribu dokter untuk penanganan pasien covid-19 yang jumlahnya melonjak dalam beberapa hari terkahir ini.
"Mengenai dokter, kami melihat ada gap sekitar 3 ribu dokter yang harus dipenuhi dengan penambahan kasus ini (covid-19-Red)," katanya, usai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi, Senin (12/7).
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, menurut dia, pemerintah menunggu dokter yang akan segera selesai program internshipnya.
Kurang lebih terdapat 3.900 dokter yang akan selesai internshipnya pada tahun ini. "Kami juga sudah mempersiapkan dokter-dokter tersebut yang baru lulus internship untuk segera masuk (bertugas-Red)," ujarnya.
Tak hanya dokter, pemerintah juga membutuhkan sekitar 16 ribu-20 ribu tenaga perawat. Pihaknya telah mendata jumlah perawat yang telah lulus pendidikan dan telah mendapatkan uji kompetensi untuk segera diperbantukan dalam penanganan covid-19.
Selain itu, Kemenkes juga mendata para perawat yang kuliah di tingkat akhir untuk segera masuk praktik. "Atas instruksi bapak presiden, kami akan bicara dengan Pak Menteri Pendidikan bagaimana bisa menggerakkan perawat-perawat ini lebih cepat masuk ke praktik," tuturnya.
Budi menyatakan, melonjaknya kasus covid-19 telah menyebabkan para nakes turut terinfeksi virus itu. Mereka yang terpapar kini harus isolasi mandiri dan tidak dapat bertugas.
Sebagai upaya untuk melindungi para nakes yang berjuang di garda terdepan dalam penanganan covid-19, pemerintah akan segera menyuntikan dosis ketiga vaksin sebagai booster kepada mereka menggunakan vaksin Moderna.
"Rencananya akan sesegera mungkin setelah kita finalisasi distribusi dengan asosiasi dokter, perawat, bidan untuk melakukan vaksinasi ketiga dengan Moderna bagi mereka," paparnya.
"Kami di sini sangat prihatin, dan akan terus memperhatikan kesehatan perawat, dokter, dan bidan ini," tambahnya.
Adapun, Lia Partakusuma, Sekretaris Jendral Asosiasi Rumah Sakit Indonesia, sempat mengungkapkan, telah melakukan survei di rumah sakit umum di kota-kota besar Jawa. "(Pihak rumah sakit) mengatakan 10 persen nakes mereka positif covid," tuturnya.
Ia berujar, para nakes itu seharusnya menjalani isolasi mandiri selama 2 minggu, tetapi sejumlah petugas lain mengatakan kebanyakan di antaranya harus kembali bekerja kembali setelah 5 hari, karena sangat diperlukan di rumah sakit.
Menurut data Asosiasi Rumah Sakit Indonesia, sekitar 95 persen tenaga kesehatan di Indonesia sudah menerima dua dosis vaksin Sinovac.
Namun, menurut catatan Lapor Covid-19, dari Juni lalu, sebanyak 131 tenaga kesehatan, yang kebanyakan menerima vaksin Sinovac, telah meninggal dunia.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat jumlah nakes yang terpapar virus corona dan membutuhkan perawatan di fasilitas kesehatan (faskes) pada periode Juni-Juli 2021 lebih parah dari pada yang terjadi di Desember 2020-Januari 2021.
Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar IDI Adib Khumaidi menyebut, sejumlah provinsi melaporkan ratusan nakesnya terpapar covid-19 dalam 2 bulan terakhir. Bahkan beberapa kasus di antaranya berujung pada kematian.
"Memang menjadi perhatian kita saat ini adalah kondisi yang terjadi, dan kemudian banyaknya teman-teman nakes yang dirawat ini jauh lebih banyak pada saat ini dibandingkan Desember-Januari. Ini yang kemudian menjadi satu perhatian," katanya, dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lapor Covid 19, Jumat (9/7).
Tak hanya angka sakit para nakes, Adib juga mencatat jumlah kematian dokter akibat terpapar covid-19 pada Juni-Juli mengalami peningkatan signifikan. Ia menyebut, puncak kematian tertinggi terjadi di Januari dengan 65 dokter yang meninggal akibat covid-19.
Kemudian pada Februari mengalami penurunan hingga menjadi 31 kasus, lalu Maret 16 kasus, April delapan kasus, Mei tujuh kasus, dan Juni melonjak menjadi 48 kasus kematian.
Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi pada Juli, sebab baru sepekan di Juli sebanyak 35 dokter meninggal akibat covid-19. "Ini tentunya sangat menjadi perhatian khusus dari kami," tandasnya.
Adib mewanti-wanti kepada para teman sejawat nakes untuk terus melaporkan kondisi kesehatan mereka, sehingga dapat terpantau dengan baik.
Ia juga meminta pemerintah terus menggencarkan strategi tes, telusur, dan tindak lanjut (3T). Sebuah strategi di hulu sehingga faskes sebagai hilir tidak kewalahan.
Sementara, Koalisi Warga Lapor Covid19 mencatat per 9 Juli sebanyak 1.141 nakes dinyatakan meninggal dunia selama 16 bulan pandemi covid-19 menjangkiti Indonesia.
Para nakes tersebut terdiri dari dokter umum dan spesialis, dokter gigi, perawat, bidan, petugas ambulans, apoteker, ahli teknologi laboratorium medik (ATLM), dan nakes lain. (Tribunnews/Taufik Ismail)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tenaga-medis-covid-kelelahan.jpg)