Breaking News:

Berita Jawa Tengah

Ini Cara Ganjar Pranowo Atasi Kekurangan Pasokan Oksigen Medis di Jawa Tengah

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, terus berupaya menutup kekurangan pasokan oksigen di wilayahnya.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: moh anhar
Humas Pemprov Jateng
Gubernur Ganjar Pranowo bersepeda pagi dan singgah di PT Samator Gas Industri di Kaliwungu, Kendal, Minggu (11/7/2021). Sebelumnya produksi oksigen di tempat tersebut sempat mengalami gangguan akibat listrik padam. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, terus berupaya menutup kekurangan pasokan oksigen di wilayahnya.

Sejumlah upaya dan alternatif mempercepat penambahan suplai serta distribusi pun diambil dengan mengedepankan situasi kedaruratan.

Hal itu terungkap dalam Rakor Ketersediaan Oksigen Medis Jawa Tengah di Gubernuran, Selasa (13/7/2021).

Dalam rakor tersebut, dibahas lima alternatif.

Baca juga: Optimalkan PPKM Darurat, Ganjar Pranowo Dukung Seluruh Exit Tol Jateng 16-22 Juli Mendatang Ditutup

Baca juga: Wildan Karanganyar Lemas Dipaksa Ikut Memakamkan Jenazah Pasien Corona, Berawal Nyinyir di Medsos

Baca juga: Alasan Edi-Peni Suami Istri Asal Banjarnegara Tinggal di Tengah Hutan Jauh dari Hiruk Pikuk

Dari teknis distribusi yang terkendala akses rumah sakit, konversi oksigen industri ke kesehatan, penghematan oksigen oleh rumah sakit, instalasi oksigen generator, hingga penggabungan perusahaan suplier oksigen.

"Kita mencoba meminta melalui pemerintah pusat, mbok dikonversi. Konversi lah yang dari industri ke kesehatan, agar (kekurangan) bisa terpenuhi," kata Ganjar, dalam rilisnya.

Masalah lainnya adalah teknis pengiriman. Sebab seringkali transporter atau pengangkut oksigen isotank yang berukuran besar (isotank) tidak bisa masuk ke rumah sakit.

"(Transporter) yang gede-gede ini tidak mungkin karena rata-rata rumah sakitnya tidak menyiapkan (jalan masuk) yang lebih lebar. ‘Waduh pak ada gapurane, ada pagere pak’, nah saya bilang kalau  seperti itu dirobohkan aja gapuranya wong sudah darurat," tegas Ganjar.

Penggunaan oksigen generator di rumah sakit menjadi opsi yang menarik dibahas. Sebab dengan begitu, rumah sakit bisa memproduksi oksigennya sendiri.

Namun hal ini jelas tidak bisa instan karena peralihan ke oksigen generator butuh waktu untuk instalasi.

Alternatif lainnya yakni penghematan oksigen di rumah sakit. Caranya dengan mengganti alat dari HFNC (High Flow Nasal Cannula) ke Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang aliran oksigennya tidak terlalu tinggi. Selain itu, harganya lebih terjangkau.

Baca juga: Kekurangan 67.342‎ Dosis Vaksin, Dinas Kesehatan Kudus Hentikan Penyuntikan Dosis Pertama

Baca juga: Sinopsis Olympus Has Fallen Gerard Butler Bioskop Trans TV Pukul 19.30 WIB Misi Agen Rahasia

Baca juga: Mulai Malam Ini, PJU di Kendal Dimatikan Serentak

Baca juga: Meski Ditunda, Sekolah Siap Gelar PTM, Disdikbud Jateng: Sudah Ada 169 Sekolah Negeri Ikut Uji Coba

"Itu sudah dipraktekkan di rumah sakit Moewardi. Maka tadi kita sampaikan sama persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) apakah setuju, minimal dari sisi penghematan. Jadi gerakannya di hulu kita mencari, transporternya aman, rumah sakit bisa berhemat tapi ini sustain. Sehingga kemudian stok yang ada di rumah sakit itu mencukupi untuk mengcover pasien," tegasnya.

Selain itu, Ganjar juga berencana menggabungkan kelola perusahaan supplier dengan distributor oksigen di masa darurat ini. Sehingga pelaksanaannya bisa terbuka dan lebih cepat mengatasi ketersediaan oksigen ini.

"Perusahaan-perusahaan supplier yang ada, distributor yang ada kita mau gabungkan agar punya MoU sehingga menjadi open akses, kalau nggak kan nanti sendiri-sendiri, ‘ini punyaku kok saya nggak mau setor sana kok’, nggak bisa, ini kondisi darurat," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved