Berita Semarang

Pengguna Jalan Protes PJU di Sejumlah Jalan di Kota Semarang Dipadamkan

Pemkot Semarang melakukan pemadaman Penerangan Jalan Umum (PJU) di sejumlah jalan protokol.

Penulis: budi susanto | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Budi Susanto
Jalan Letnan Jenderal S Parman nampak gelap gulita, saat pemadaman PJU dilakukan, Selasa (13/7/2021) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemkot Semarang melakukan pemadaman Penerangan Jalan Umum (PJU) di sejumlah jalan protokol.

Tercatat PJU di belasan jalan protokol dipadamkan sejak 12 Juli lalu, hal itu akan berlanjut hingga 20 Juli mendatang.

Adapun PJU di ruas Jalan Tentara Pelajar, Sriwijaya, Suyudana, S Parman, Kelud Raya, Menoreh Raya, Durian Raya, dan Jalan Mulawarman Raya dipadamkan.

Selain itu, pemadaman PJU juga dilakukan di Jalan Majapahit hingga polsek pedurungan, Jalan Supriyadi, Fatmawati, Soekarno Hatta, dan PJU di Jalan Kedungmundu.

Pemadaman PJU yang dilakukan dalam rangka mendukung PPKM darurat tersebut, juga dibenarkan oleh Akhmad Dani, Kepala UPTD PJU I Disperkim Kota Semarang.

“Benar ada pemadaman PJU di sejumlah jalan protokol di Kota Semarang dari 12 Juli hingga 20 Juli mendatang,” terangnya, Selasa (13/7/2021) sore.

Pantuan Tribunjateng.com, Selasa (13/7) malam, dampak dari pemadaman PJU, membuat sejumlah ruas jalan protokol minim penerangan.

Kondisi tersebut mengharuskan pengguna jalan ekstra waspada saat melintas di jalan minim penerangan.

Para pengguna jalan pun mengeluhkan kebijakan tersebut, karena takut terjadi kecelakaan serta kriminalitas saat melintas di jalan minim cahaya.

Akang Haidar (25) warga Pundak Payung, Banyumanik misalnya, saat ditemui Tribunjateng.com di Jalan Menoreh, ia menyampaikan protesnya.

“Membahayakan pastinya, belum lagi jika  terjadi tindak kejahatan, ya apapun alasannya sebagai pengguna jalan saya tidak setuju jika PJU dipadamkan,” ucap pemuda yang acap kali melintas di Jalan Menoreh untuk pulang kerja tersebut.

Tak jauh berbeda, Mona (23) warga Candisari juga mengungkapkan hal sama, sebagai seorang wanita ia cemas jika harus melintas di jalan minim penerangan.

“Sebenarnya saya tidak tahu ada pemadaman PJU, dan baru tahu kali ini. Pantas saja dari kemarin saat melintas di Jalan Kelud Raya gelap. Sebagai wanita tentunya saya takut,” ucapnya.

Dikatakan wanita 23 tahun itu, keselamatan pengguna jalan raya harusnya menjadi prioritas, dan PPKM darurat tak harus dilakukan dengan pemadaman PJU.

“Saya tinggal di wilayah Dewi Sartika, kerja saya di bidang home care juga mobile. Kadang pulang malam, kalau PJU dipadamkan dan ada tindak kriminal lantaran minim penerangan yang tanggung jawab siapa. Tentunya bukan saya saja yang takut, wanita lainnya pasti merasakan hal sama,” imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved