Breaking News:

Berita Salatiga

Covid-19 Varian Delta Masuk Salatiga, DKK Larang Warga Borong Obat di Apotik

Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Salatiga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah apotik dan perusahaan, Rabu (14/7/2021). 

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG/M NAFIUL HARIS
Kepala DKK Salatiga Siti Zuraidah saat melakukan sidak ke salah satu apotik di Salatiga terkait PPKM Darurat, Rabu (14/7/2021).  

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Salatiga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah apotik dan perusahaan, Rabu (14/7/2021). 

Sidak itu, dalam rangka penegakan aturan selama penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga Siti Zuraidah mengatakan dalam sidak yang dilakukan diketahui sejumlah apotik kehabisan obat terutama jenis antibiotik. 

"Itu karena diburu warga, maka saya sampaikan jangan ada aksi borong obat antibiotik.

Yang habis obat Oselltsmivir untuk anti virus dan Azitromycin sebagai anti biotik," terangnya kepada Tribunjateng.com, di Apotik Vitra Jalan Diponegoro, Kota Salatiga, Rabu (14/7/2021) 

Zuraidah menyatakan, meski virus Corona (Covid-19) varian Delta terdeteksi masuk Kota Salatiga masyarakat dilarang panik.

Menurutnya, obat Covid-19 adalah menjaga daya tahan tubuh dengan berolahraga, mengkonsumsi makanan sehat dan mematuhi protokol kesehatan (prokes). 

Ia menambahkan, untuk wacana adanya bantuan obat-obatan bagi warga yang melakukan isolasi mandiri (isoman) disebut belum mendapat prosedur resmi. 

"Meski demikian, jika tidak ada gejala sebaiknya jangan mengkonsumsi obat. Jaga imunitas, apabila hasil swabe positif tetapi tanpa gejala agar lebih banyak istirahat di rumah," katanya

Terpisah Wali Kota Salatiga Yuliyanto mengaku dalam sidak yang dilakukan ke sejumlah perusahaan seperti PT Formula trik dan PT Chaeron Phokphan tidak ditemukan pelanggaran berarti. 

Yuliyanto mengungkapkan, rata-rata perusahaan kategori esensial untuk produk ekspore dan bahan makanan masih mempekerjakan pekerja 100 persen. 

"Kemudian 25 persen pekerja masuk kantor sisanya Work From Home (WFH). Jadi tidak ada pelanggaran berarti.

Ini kami juga nanti rencana menggalang lewat dana Corporate Social Responcibilty (CSR) untuk bantuan makanan warga isoman," ujarnya (ris) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved