Breaking News:

Arus Distribusi Barang Merosot 50%

kendala distribusi logistik hanya terjadi saat awal PPKM Darurat diterapkan, karena adanya penutupan sejumlah ruas jalan di perbatasan wilayah.

Editor: Vito
ISTIMEWA
Sejumlah truk angkutan logistik melintas di jalan tol di Tb Simatupang, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (28/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Asosiasi Logistrik Indonesia (ALI) menyebut penerapan PPKM Darurat tidak menghambat jalur distribusi logistik, meski saat ini dilakukan perluasan penyekatan jalan di berbagai wilayah.

Ketua Umum ALI, Mehendra Rianto mengatakan, kendala distribusi logistik hanya terjadi saat awal PPKM Darurat diterapkan, karena adanya penutupan sejumlah ruas jalan di perbatasan wilayah.

"Pada awal saja, tanggal 3, 4, dan 5 Juli kemarin. Setelah itu, kemana-mana jalan kosong, dan distribusi jadi lebih cepat," katanya, Kamis (15/7).

Menurut dia, sejumlah aturan PPKM Darurat seperti surat tanda registrasi pekerja (STRP), test PCR, maupun sertifikat vaksinasi, tidak menjadi kendala bagi perusahaan logistik selama ini.

"Tapi jadi ada biaya tambahan saja untuk karyawan maupun drivernya untuk PCR," ujarnya.

Mahendra menuturkan, PPKM Darurat juga membuat pungutan liar atau pungli yang biasanya dilakukan preman di jalan menjadi tidak ada.

"Pungli berkurang, mungkin takut juga sama virus. Biasanya ke Jakarta Utara, ke pelabuhan itu bisa Rp 100 ribu satu truk, ada pungli di luar pelabuhan dan di dalam pelabuhan, tapi selama PPKM Darurat jadi tidak ada pungli," paparnya.

"Kalau bukan di pelabuhan, sekitaran Jabodetabek per truk punglinya bisa kisaran Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu. Ini hanya Jabodetabek saja, kalau di luar itu beda lagi," sambungnya.

Meski memperlancar distribusi dan menghilangkan pungli, Mahendra menyatakan, PPKM Darurat telah menekan pendapatan perusahaan logistik, karena secara volume pengiriman berkurang hingga 50 persen.

"Sekarang itu hanya industri esensial yang bisa gerak, di luar esensial berhenti, seperti elektronik, furniture itu berhenti, tidak ada orang yang beli juga. Jadi peredaran barang berkurang hampir 50 persen," jelasnya. (Tribunnews/Seno Tri Sulistiyono)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved